Lensa Indramayu  -Indramayu_Pemerintah Kabupaten Indramayu melalui Dinas Lingkungan Hidup kembali akan menggerakan 1.000 orang untuk membersihkan Sungai Cimanuk dan Prajagumiwang dalam kegiatan Grebeg Kali Bersih atau Program Kali Bersih (Prokasih). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-491 Kabupaten Indramayu dan peringatan World Clean Up Day 2018 se Jawa Barat atau Gerakan Pungut Sampah yang akan dilaksanakan pada Sabtu 15 September 2018 mendatang.

Kegiatan bersih bersih 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu, Aep Surahman mengatakan, yang akan menjadi titik kegiatan yakni sungai Cimanuk Lama dan Prajagumiwang. Kegiatan ini akan diikuti oleh peserta sebanyak 1.000 orang yang merupakan utusan dari TNI/Polri, SKPD, BUMN/BUMD, pelajar, dan masyarakat sekitarnya.

"Aep menjelaskan, yang menjadi objek kegiatan itu adalah sampah yang berada di Sungai Cimanuk dan Prajagumiwang serta di sisi kanan dan kiri dari sungai tersebut. Kemudian juga rumput liar dan materi yang menghambat laju air di Sungai Cimanuk dan Prajagumiwang,"

“ Kita konsen terhadap sampah yang masih ada di sungai, selain itu juga beberapa material yang menghambat air seperti rumpul liar, keramba, bangkai kapal, dan lainnya kita akan angkat untuk menjdikan Sungai Cimanuk dan Prajagumiwang bisa lebih bersih,” tegas Aep."(10/09)
Pembersihan sungai dari sampah plastik dan sejenisnya

Dengan kekuatan 1000 orang tersebut, rencananya akan dibagi kedalam 6 pos/lokasi agar mempermudah proses kegiatan. Disamping itu, pihaknya juga menyiapkan 2 buah excavator untuk mengangkat material yang berada di sungai.

Kegiatan ini sebagai upaya yang massif menciptakan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan apalagi di perairan sungai. Saat ini di Kabupaten Indramayu sudah ada Perda tentang K3 dan sosiaslisasinya sudah dilakukan dengan memasang berbagai papan informasi di sepanjang Sungai Cimanuk lama dan Prajagumiwang.

“Kami akan tegakkan perda ini, bersama dengan Sat Pol PP kami tidak tegas mereka yang membuang sampah sembarangan dan juga sanksi social lainnya,” tegas Aep.

Sai

Lensa Indramayu _
Sungai CiPELANG


Desa Kongsijaya Rawan Bencana, Dinsos bersama Tim TAGANA Gelar Penyuluhan Kampung Siaga Bencana.

Untuk membangun Kondusivitas daerah rawan bencana, Dinas Sosial indramayu bersama tim Tanggap Siaga Bencana (TAGANA) gelar Penyuluhan Kampung Siaga Bencana, pelaksanaan penyuluhan tersebut bertempat di Desa Kongsijaya Kecamatan Widasari Kabupaten Indramayu, kamis 23/08/2018

Selain dihadiri oleh Dinsos dan tim TAGANA Indramayu, kegiatan penyuluhan dihadiri juga oleh perwakilan Dinsos Provinsi Jabar dan Kepala Desa setempat.

Penyuluhan dilakukan agar masyarakat desa kongsijaya selalu siap siaga jika terjadi bencana, selain itu agar masyarakat bisa mengetahui langkah apa saja yang harus dilakukan jika terjadi bencana.

"penyuluhan Kampung Siaga Bencana ini di anggarkan oleh Dinas Sosial Provinsi jabar dan di khususkan bagi desa - desa yang sering mendapatkan bencana" kata Drs. H. marsono M.Pd selaku Kadinsos indramayu.

Diketahui penyuluhan Kampung siaga bencana dipesertai sebanyak 40 orang yang terdiri dari 37 peserta laki - laki dan 3 peserta perempuan selama 3 hari berturut - turut.

"Diharapkan usai mendapatkan penyuluhan, para peserta dapat menularkannya kembali minimal ke keluarganya masing - masing terlebih dahulu, kemudian silahkan dikembangkan ke tingkat RT/RW hingga meningkat ke tingkat antar desa" jelasnya.

hal serupa dikatakan Yuyun Pelaksana kegiatan Perwakilan Dinsos Provinsi Jabar bidang perlindungan jaminan sosial berharap agar peserta penyuluhan dapat mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadinya bencana.

"untuk materi kegiatan di hari pertama ini kita lakukan penyuluhan, di hari kedua akan dilakukan pelatihan dan dihari ketiga akan dilanjutkan dengan melakukan simulasi dilapangan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang sudah ditentukan oleh pemerintah" ucap Yuyun

Sementara itu Sutarjo selaku Kepala Desa Kongsijaya membenarkan bahwa desa nya langganan setiap tahun terjadi bencana banjir.

"letak geografis desa kongsijaya ini terapit oleh tiga sungai, yakni sungai cimanuk, sungai cipelang dan sungai cibuaya sehingga setiap tahunnya desa kami selalu mendapat kiriman air dari wilayah dataran tinggi yang mengalir melalui sungai - sungai tersebut" tuturnya.

"oleh karena itu sebelumnya kami sudah membentuk tim siaga desa dan siaga bencana, untuk tahun ini kami bersyukur bisa mendapatkan penyuluhan dan pelatihan siaga bencana yang dianggarkan dari Dinsos Provinsi Jabar" terang sutarjo.

Lokasi Gempa
Lensa Indramayu  - Gempa bumi dengan magnitude 4,3 Skala Richter baru saja mengguncang wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika dalam siaran resminya menyebutkan, gempa mengguncang Tasikmalaya pada pukul 12.29.23 WIB, Kamis 23 Agustus 2018.

Pusat gempa berada pada titik koordinat 8.1 Lintang Selatan, 108.07 Bujur Timur atau sekitar 50 kilometer barat daya Kabupaten Tasikmalaya.

Pusat gempa berada pada kedalaman 78 kilometer di lautan. BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini gelombang tsunami pada kejadian gempa ini.

Sebelumnya, gempa juga mengguncang Lampung Barat. Bahkan terjadi dua gempa dalam satu jam dengan magnitude 5,5 SR dan 4,2 SR. Gempa juga mengguncang Bali. (red)

Lensa Indramayu Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, meneliti dan memetakan mikrozonasi potensi bencana guncangan tanah di Desa Sukaperna, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Ilustrasi


"Kami melakukan pemetaan mikrozonasi di Desa Sukaperna, karena wilayah ini rawan bencana dan juga merupakan lokasi terjadinya semburan gas beberapa waktu lalu," kata Kepala Bidang Pemetaan, 

Pusat Survei Geologi, KESDM, Sinung Baskoro di Indramayu, Senin, 20 Agustus 2018, dilansir Antara.
Baskoro mengatakan Kabupaten Indramayu merupakan daerah yang secara geologis ditutupi oleh batuan berumur Kuarter yang relatif muda dan bersifat lepas. Terdiri dari pasir dan kerikil yang sangat rentan terhadap bahaya guncangan tanah akibat gempa.

Pada wilayah tersebut diduga dilalui oleh patahan-patahan aktif yang sulit diidentifikasikan, sebab tertutupi oleh endapan Kuarter.
[ads-post]
Dia menjelaskan manfaat dari pemetaan mikrozonasi, agar pemangku kebijakan dam masyarakat bisa mengetahui zona-zona yang aman untuk pembangunan dan hunian.

"Peta yang dihasilkan diharapkan akan menjadi pedoman bagi pemanfaatan lahan oleh masyarakat, pemerintah dan lainnya. Selain itu, kami juga memberikan gambaran bagi pengusahaan minyak dan gas bumi dalam mengetahui kondisi permukaan di wilayah tersebut," lanjutnya.

Dengan pengetahun tersebut, lanjut Baskoro, masyarakat bisa terhindar dari bahaya yang ditimbulkan oleh ketidakpahaman dan bisa bertindak lebih cepat ketika terjadi semburan gas, beberapa waktu lalu.

Gempa bumi
Lensa Indramayu  - Jakarta - Gempa berkekuatan 5,0 SR yang mengguncang Indramayu hari ini disebut sebagai fenomena langka. Alasannya, gempa ini terjadi di kedalaman 662 km.

"Hasil analisis update BMKG menunjukkan gempa ini memiliki magnitudo M=5,3 dengan episenter terletak pada koordinat 5,11 LS dan 108,34 BT, tepatnya di Laut Jawa, pada jarak 119 km arah utara Kota Indramayu, Jawa Barat, pada kedalaman 662 km," kata Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono, Sabtu (23/6/2018).
Daryono menyebut peristiwa ini sebagai deep focus. Menurutnya, gempa yang terjadi pada kedalaman lebih dari 300 km adalah fenomena langka.


"Gempa bumi dalam dengan hiposenter melebihi 300 km di Laut Jawa merupakan fenomena langka yang menarik, karena fenomena gempa semacam ini sangat memang jarang terjadi," ujarnya.

"Meskipun peristiwa gempa deep focus dengan hiposenter yang dalam di utara Indramayu ini tidak berdampak, tetapi peristiwa ini sangat menarik untuk dicermati dalam konteks ilmu kegempaan atau seismologi," sambungnya.

Dia juga menjelaskan soal penyebab gempa ini. Menurut Daryono, gempa ini disebabkan gaya tarikan lempeng ke arah bawah.

"Secara tektonik, zona Laut Jawa terletak di zona tumbukan lempeng yang memiliki keunikan tersendiri karena di zona ini lempeng Indo-Australia menunjam dengan lereng yang menukik curam ke bawah lempeng Eurasia hingga di kedalaman sekitar 625 km. Jika ditinjau dari kedalaman hiposenternya, maka gempa utara Indramayu ini terjadi karena dipengaruhi gaya gaya tarikan slab lempeng ke arah bawah (slab-pull gravity)," ujarnya.

Hal itu, menurutnya, menunjukkan masih aktifnya lempeng di Pulau Jawa. Khususnya, kata Daryono, di Jawa Barat.

"Dalam hal ini, gaya tarikan lempeng ke bawah (slabpull) tampak lebih dominan, dan dominasi gaya tarik lempeng ke bawah inilah yang memicu terjadinya gempa deep focus yang terjadi di Laut Jawa. Aktifnya deep-focus earthquake di Laut Jawa ini menjadi petunjuk bagi kita semua bahwa proses subduksi lempeng di zona subduksi dangkal, menengah, dan dalam Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat, hingga kini masih sangat aktif," pungkasnya

Lensa Indramayu  - Gempa bumi berkekuatan 5,0 Magnitudo mengguncang wilayah Bali. Gempa terjadi pukul 08.44 WIB.
Ilustrasi Gempa

Gempa bumi berkekuatan 5,0 Magnitudo mengguncang wilayah Bali. Gempa terjadi pukul 08.44 WIB atau 09.44 WITA.
[post_ads]
Pusat gempa berada di bagian selatan Bali, berjarak 203 km dari Klungkung dan 215 km dari Denpasar. Kedalaman gempa berada 10 km di bawah permukaan laut.
"Gempa ini tidak berpotensi tsunami," kata Kepala Humas BMKG Hary T Djatmiko dalam keterangannya, Rabu (21/2).
[post_ads_2]
Belum diketahui apakah ada korban jiwa maupun luka akibat gempa ini. Selain itu belum ada informasi terkait kerusakan.

Lensa Indramayu  - SUBANG - Sekitar 1.040 hektare sawah di Kabupaten Subang dan Indramayu terendam banjir menyusul tingginya curah hujan di kedua wilayah tersebut pada Selasa (6/2) lalu. Meski terendam banjir dengan ketinggian antara 20 hingga 60 sentimeter tanaman padi berusia sekitar satu bulan tersebut masih bisa di selamatkan.
Sawah kebanjiran, ilustrasi

"Terendam selama satu hingga dua hari dan masih bisa diselamatkan atau tidak puso," kata Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Jabar, Ir Hendy Jatnika MM Jumat (9/2).
[post_ads]
Menurut Hendy, di Kabupaten Indramayu luas lahan sawah terendam banjir seluas 599 hektare yang berada di Kecamatan Sukra seluas 160 hektare, Kadanghaur seluas 435 hektare, dan Kecamatan Kedokanbunder seluas lima hekatare.

Di Kecamatan Sukra, kata dia, banjir terjadi di Desa Ujungebang 45 hektare, Desa Tegal Taman 105 dan Desa Sumur Raden 10 hektare. Di Kecamatan Kandanghaur, imbuh dia, banjir merendam sawah di Desa Parean Girang 45 hektare, Bulak 135 hektare, Pranti 45 hektare, Eretan Wetan dua hektare, Eretan Kulon 195 hektare, Kertawunangun 15 hektare, dan Desa Soge dua hektare.

Sementara di Kecamatan Kedokanbunder banjir merendam tanaman padi di Desa Kedokanbunder Wetan seluas lima hektare.

Hendy mengungkapkan, banjir di ketiga kecamatan tersebut merendam sawah dengan ketinggian 20 hingga 70 sentimeter. Tanaman padi tersebut, kata dia, merendam sawah dengan kurun waktu satu sampai tiga hari.

Meski terendam banjir, kata dia, tanaman padi berusia sekitar satu bulan tersebut masih bisa diselamatkan. Ia mengatakan, lahan yang terendam padi tersebut akan terus dipantau oleh jajaran Dinas Pertanian setempat bersama petugas Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura yang ada di daerah tersebut.

" Jika terjadi gejala puso petugas akan membantu petani melakukan penanaman ulang. Tapi mudah-mudahan tak sampai puso," ujar dia.

Sedangkan di Kabupaten Subang, lanjut Hendy, banjir merendam tanaman padi di Kecamatan Blanakan seluas 445 hektare. Banjir tersebut melanda Desa Rawa Mekar (45 hektare), Rawameneng (50), Jayamukti (150), Langensari (20), dan Desa Tanjungtiga 200 hektare.
[post_ads_2]
Ketinggian air di daerah ini antara 20 hingga 50 sentimeter dengan usia tanaman sekitar satu bulan. "Informasi terakhir sudah ada yang surut. Mudah-mudahan tidak puso, masih selamat karena umur tanamannya masih muda. Kalau ada yang puso akan dilakukan tanam ulang secepatnya," tutur dia.

Lensa Indramayu  - Subang - Pemerintah Kabupaten Subang, Jawa Barat, menyiapkan dapur umum dan titik-titik pengungsian untuk warga korban banjir di wilayah Pamanukan, Subang.
Documentasi : Warga menggunakan tali sebagai jalur evakuasi ketika melintasi arus banjir yang deras di Pamanukan, Subang, Jawa Barat (20/1/2014). 

"Saat ini kami masih berupaya melakukan penyelamatan warga korban banjir," kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Subang Hidayat, saat dihubungi di Subang, Senin.
[post_ads]
Pihaknya juga tengah menyiapkan titik-titik pengungsian serta berupaya membuat dapur umum untuk meringankan beban warga yang menjadi korban banjir itu.

Saat ini, warga korban banjir umumnya mengungsi ke tempat yang lebih aman. Bahkan ada pula warga korban banjir yang telah mengungsi di bawah jembatan layang Pamanukan.

Sementara itu, bencana alam banjir melanda ribuan rumah di sejumlah desa sekitar wilayah utara Subang sejak beberapa hari terakhir.

Kondisi itu terjadi akibat tingginya curah hujan yang terjadi di daerah tersebut selama beberapa hari terakhir.

Ia mengatakan, tingginya curah hujan tersebut mengakibatkan Sungai Cigadung yang mengalir ke wilayah Pamanukan meluap. Sehingga banjir melanda sejumlah desa di sekitar Subang.

Tapi bencana banjir yang terparah terjadi di sekitar wilayah Kecamatan Pamanukan seperti Pamanukan Kota, Desa Mulyasari dan Desa Lengkong Jaya.

"Banjir sudah terjadi sejak dua hari terakhir dan kita terus melakukan upaya pengendalian," kata dia.
[post_ads_2]
Diperkirakan, banjir di daerahnya telah melanda sekitar 1.500 unit rumah. Tapi hingga kini pihaknya masih melakukan pendataan, karena curah hujan masih tinggi.

"Ketinggian air mencapai 40-60 centimeter," kata dia.

Lensa Indramayu  - INDRAMAYU -- Banjir yang menerjang lima desa di Kabupaten Indramayu pada Senin (5/2) lalu telah merendam sebanyak 875 rumah. Bantuan logistik pun sudah dikirim ke titik lokasi banjir.

warga yang terdampak banjir tercatat ada 1.093 kepala keluarga.
Ada pun lima desa yang dilanda banjir itu, yakni Desa Sukahaji, Bugel, Limpas, Patrol dan Arjasari. Semuanya terletak di Kecamatan Patrol. Sedangkan warga yang terdampak banjir tercatat ada 1.093 kepala keluarga. "Tidak ada korban jiwa dalam bencana banjir tersebut," ujar Kepala Bidang Kedaruratandan Logistik BPBD Kabupaten Indramayu, Dadang, Selasa (6/2).

Dadang menyebutkan, ketinggian banjir yang merendam rumah warga itu bervariasi, mulai dari 30 sentimeter hingga satu meter. Banjir disebabkan meluapnya Sungai Panggang Welut, yang merupakan anak Sungai Cimanuk, setelah hujan lebat mengguyur sejak Sabtu (3/2) lalu.

Dadang mengatakan, warga yang terdampak banjir sebagian besar memilih bertahan di rumah mereka masing-masing. Namun, BPBD Indramayu tetap mendirikan posko bantuan dan dapur umum di lokasi banjir untuk memenuhi kebutuhan warga korban banjir.

Menurut Dadang, stok bahan pangan untuk warga korban banjir itu masih aman untuk dua hari kedepan. Untuk stok ke depan, BPBD masih menunggu instruksi lanjutan.

Sementara itu, selain dari BPBD, bantuan pun mengalir dari berbagai pihak, salah satunya Polres Indramayu. Kapolres Indramayu, AKBP Arif Fajarudin, memimpin langsung pemberian bantuan sembako bagi korban banjir di Kecamatan Patrol.

"Dengan bantuan paket sembako, kami berharap bisa meringankan beban warga yang menjadi korban banjir," tutur Arif.

Sementara itu, banjir yang melanda wilayah Kecamatan Patrol mulai surut, Selasa (6/2). Warga pun disibukkan dengan aktivitas membersihkan rumah dan perabot milik mereka yang sempat terendam banjir. "Semoga banjir tidak terjadi lagi," kata seorang warga Desa Limpas, Jajo.

Terpisah,Forecaster BMKG Stasiun Jatiwangi, Ahmad Faa Izyn, menjelaskan, potensi hujan sedang hingga lebat diprakirakan akan terjadi sepanjang Februari 2018. Warga di Wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) pun diimbau untuk mewaspadai potensi bencana yang terjadi akibat tinginya intensitas hujan tersebut. "Bulan Februari ini merupakan puncak musim hujan," tandas Ahmad. (Red)

Lensa Indramayu  - BOGOR - Awan yang mencakup 37 persen langit di Bogor menghalangi pemandangan gerhana bulan, Rabu, 31 Januari 2018. Sebagian masyarakat melakukan shalat gerhana di 850 masjid yang tersebar di seluruh wilayah Bogor saat terjadi gerhana kali ini.
Ilustrasi/Persiapan melihat gerhana bulan

Kepala Stasiun Klimatologi Dramaga Bogor, Boedi Suhardi menjelaskan fenomena kali ini cukup istimewa karena ukuran bulan terlihat lebih besar dan berwarna merah atau biru. Fenomena tersebut dinamakan super blue blood moon.

Selain awan, masyarakat juga tidak bisa maksimal menyaksikan proses gerhana karena hujan. "Prakiraan itu untuk wilayah Bogor saja," kata Boedi menegaskan hal itu berdasarkan perhitungan Stasiun Klimatologi, enam jam sebelum terjadi gerhana.
[post_ads]
Menurut Boedi, gerhana bulan bisa mempengaruhi kondisi cuaca, perilaku hewan dan tumbuhan. Ia juga mengakui biasanya terjadi perubahan tingkat gravitasi bulan yang mempengaruhi kondisi pasang surut air laut selama terjadi gerhana.

"Masyarakat diimbau tetap tenang. Jangan dikaitkan dengan hal mistis seperti halnya bagaimana anaknya (dalam kandungan ibu hamil)," kata Boedi mengimbau. Menurutnya, gerhana bulan kali ini adalah fenomena alam biasa yang terjadi dalam jangka waktu tertentu.

Sementara menurut Pemrakira Cuaca dari Stasiun Klimatologi Citeko Ronald, gerhana bulan kali ini sebenarnya bisa dilihat dari seluruh wilayah Bogor selama tidak tertutup awan. "Untuk (pemandangan gerhana bulan) yang paling idealnya adalah di Puncak Bogor," katanya menyarankan.

Menurut Ronald, puncak gerhana bulan kali ini terjadi pada rentang waktu setengah jam yakni sekitar pukul 20.30-21.00. Namun, proses atau fase gerhana tersebut menurutnya terjadi selama beberapa jam yakni sejak pukul 19.00 hingga 22.00 WIB.

Salat gerhana
[post_ads_2]
Sejumlah masyarakat mengisi proses gerhana bulan dengan solat sunat di mesjid-mesjid terdekat. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor, Mukri Aji mengatakan salat bisa dilakukan di 850 mesjid yang tersebar di wilayah Kabupaten Bogor.

MUI bahkan membuat kesepakatan dengan majelis ulama di tingkat kecamatan untuk melaksanakan salat gerhana setelah magrib atau isya. Mukri mengajak umat muslim memaknai fenomena alam kali sebagai momentum untuk bertaubat. "Gerhana itu menunjukkan salah satu kekuasaan Allah SWT," katanya.(Red)

Lensa Indramayu  -  Dunia pada awal 2018 ini sudah dibuat panik dengan rentetan bencana alam yang terjadi.
Mulai dari gempa bumi hingga gunung meletus yang terjadi hampir berdekatan.
Pasific Ring Of Fire

Hal ini pun berdampak di Indonesia dan negara-negara kawasan cincin api. Apalagi di Indonesia juga telah terjadi serentetan bencana seperti erupsi gunung Agung, gunung Sinabung dan gempa bumi di Lebak Banten.
[post_ads]
Belum lagi di Alaska juga terjadi gempa hingga 7,9 SR yang sempat menimbulkan peringatan tsunami.
Adapun twitter resmi United Nations Secretariat for International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) pada (23/1/2018) menyebut Ring of Fire telah aktif kembali.

UNISDR menyebut “Cincin Api Pasifik Aktif Hari Ini”. UNISDR juga mencatat beberapa aktivitas yang terjadi di Cincin Api Pasifik diantaanya erupsi Gunung Mayon di Filipina, erupsi Gunung Kusatsu Shirane dan menyebabkan longsor di Jepang, gempa di Banten yang terasa juga di Jakarta, hingga gempa 7,9 SR yang sempat menimbulkan peringatan tsunami di Alaska.

Kejadian ini pun terjadi di waktu yang bersamaan. Namun demikian, melalui ABC News Ilmuwan dan ahli geofisika dari USGS, William Yeck meragukan bahwa kejadian-kejadian tersebut mempunyai keterkaitan.

“Sangat tidak mungkin kalau itu berkaitan” ujarnya, Selasa (23/1/2018). Ia juga menambahkan bahwa tidak ada aktivitas yang “tidak biasa” pada cincin api.

Seperti diketahui, Indonesia juga merupakan negara yang berada di garis depan pertemuan antara tiga lempeng, yaitu lempeng Austronesia, Asia, dan Pasifik.
Negara ini berada dalam lilitan sabuk cincin api Pasifik.

Gesekan antar lempeng itu, membuat bawah bumi Indonesia selalu bergejolak dan mendidih.
Tak heran sering terjadi gempa bumi di Indonesia.
[next]
Saran BMKG Bila Terjadi Gempa
Ilustrasi

Sebagai pedoman, empat saran dari BMKG saat terjadi gempa bumi, adalah:

1. Jika Anda berada di dalam bangunan.

Lindungi badan dan kepala Anda dari reruntuhan bangunan dengan bersembunyi di bawah meja dll; Cari tempat yang paling aman dari reruntuhan dan goncangan; Lari ke luar apabila masih dapat dilakukan.

2. Jika berada di luar bangunan atau area terbuka.

Menghindari dari bangunan yang ada di sekitar Anda seperti gedung, tiang listrik, pohon, dll
Perhatikan tempat Anda berpijak, hindari apabila terjadi rekahan tanah.

3. Jika Anda sedang mengendarai mobil.

Ke luar, turun dan menjauh dari mobil hindari jika terjadi pergeseran atau kebakaran;
Lakukan point B.

4. Jika Anda tinggal atau berada di pantai.

Jauhi pantai untuk menghindari bahaya tsunami.

5. Jika Anda tinggal di daerah pegunungan.

Apabila terjadi gempabumi hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran.
[next]
Jam Kiamat Mendekat
Ilustrasi

Para ilmuwan menggerakkan jarum "Jam Kiamat" mendekati tengah malam, Kamis (25/1/2018).

Ini dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran akan senjata nuklir dan perubahan iklim.

Dikutip dari usatoday.com, Jumat (26/1/2018), "Jam Kiamat" dua menit mendekati tengah malam.

"Karena bahaya yang luar biasa saat ini, jarum menit "Jam Kiamat" kini 30 detik lebih dekat ke malapetaka," kata Rachel Bronson, Presiden Bulletin of the Atomic Scientists.

"Ini adalah jam terdekat yang pernah ada di Doomsday, dan sedekat itu pada tahun 1953, pada puncak Perang Dingin "
Setiap tahun, Bulletin of the Atomic Scientists, memutuskan apakah kejadian tahun sebelumnya mendorong manusia lebih dekat atau lebih jauh dari kehancuran.

"Jam Kiamat" saat ini paling mendekati tengah malam sejak 1953.

Saat itu juga dua menit mendekati tengah malam pada tahun 1953 saat bom hidrogen pertama kali diuji.

"Kami telah membuat pernyataan yang jelas bahwa kami merasa dunia semakin berbahaya," kata Lawrence Krauss, ketua Dewan Sponsor Buletin dan Direktur Proyek Origins Arizona State University.

"Bahaya kebakaran nuklir bukanlah satu-satunya alasan jam telah bergerak maju."

Pengumuman tersebut dibuat di Washington, D.C., di National Press Club.
[post_ads_2]
Diungkapkan, pada 2017, para pemimpin dunia gagal merespon ancaman perang nuklir dan perubahan iklim, membuat situasi keamanan dunia lebih berbahaya daripada setahun yang lalu - dan sama berbahayanya dengan Perang Dunia II.

"Risiko terbesar tahun lalu muncul di dunia nuklir. Program senjata nuklir Korea Utara tampaknya membuat kemajuan luar biasa di tahun 2017, meningkatkan risiko untuk dirinya sendiri, negara-negara lain di kawasan ini, dan Amerika Serikat," ungkapnya.

"Retorika hiperbolik dan tindakan provokatif di kedua belah pihak telah meningkatkan kemungkinan perang nuklir secara tidak sengaja atau salah perhitungan."

"Bangsa-bangsa di dunia harus secara signifikan menurunkan emisi gas rumah kaca mereka agar risiko iklim tetap terjaga,".

Semakin mendekati tengah malam, semakin dekat perkiraan bahwa bencana global akan terjadi.

Yang terjauh dari tengah malam adalah pada tahun 1991, 17 menit sampai tengah malam saat Perang Dingin berakhir.

Jam Kiamat telah dibuat oleh Bulletin of The Atomic Scientists sejak tahun 1947. Kelompok ini didirikan pada tahun 1945 oleh ilmuwan University of Chicago yang telah membantu mengembangkan senjata nuklir pertama di Proyek Manhattan.
Para ilmuwan menciptakan jam pada tahun 1947 dengan menggunakan citra kiamat (tengah malam), (menghitung mundur ke nol) untuk menggambarkan ancaman terhadap kemanusiaan dan bumi. (Red)

Lensa Indramayu  - Menanggapi peristiwa gempabumi tektonik yang terjadi di Provinsi BANTEN, maka kami menyampaikan pernyataan sebagai berikut:
Lokasi titik gempa
Lokasi titik gempa

Hari Selasa, 23 Januari 2018, 13:34:50 WIB dengan kekuatan M 6.4 Kedalaman : 10 km. Namun demikian telah dilakukan pemutakhiran Parameter gempabumi menjadi Selasa, 23 Januari 2018, 13:34:53 WIB dengan Kekuatan : M 6.1 Kedalaman : 61 km.

Gempabumi berpusat di wilayah Samudera Hindia Selatan Jawa. Karena gempabumi ini relatif kecil sehingga tidak cukup kuat untuk membangkitkan perubahan di dasar laut yang dapat memicu terjadinya tsunami.

Dari hasil monitoring BMKG sampai jam 15:49:18 WIB, telah terjadi 20 gempabumi susulan yang tercatat. Dengan rentang kekuatan gempabumi susulan adalah M 2.5 - M 4.9.

BMKG terus memonitor perkembangan gempabumi susulan dan hasilnya akan diinformasikan kepada masyarakat melalui media.

Source : BMKG

Lensa Indramayu  - Warga Desa Sukaperna, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, mulai resah dengan munculnya gas rawa bercampur lumpur yang terus keluar beberapa hari lalu. Warga khawatir kondisi ini akan berakhir seperti bencana lumpur Lapindo, Sidoarjo, Jawa Timur.
Gas campur lumpur meresahkan warga

Gas yang keluar belakangan ini kembali muncul setelah sebelumnya pernah terjadi pada tahun 2016. Sejauh ini, tercatat sebanyak 195 titik semburan gas di Desa Sukaperna dan Desa Pagedangan, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu.
 [post_ads]
Gas memancarkan aroma menyengat. Beberapa titik semburan gas berpotensi mengeluarkan api. Salah satunya yang berada di pekarangan rumah milik Wasni. Dia mengaku sangat terganggu dengan makin besarnya semburan gas tersebut.

"Sudah disumbat, tapi masih takut karena gas makin membesar," kata Wasni, Selasa, 9 Januari 2018.

Warga yang rumahnya terkena semburan gas diungsikan ke posko terdekat. Petugas BPBD setempat bersama polisi, TNI dan Pertamina terus memantau banyaknya semburan gas tersebut.

Warga pun berharap pemerintah segera menangani fenomena yang mengkhawatirkan itu. Dari informasi yang didapat, semburan gas bercampur air dan lumpur sudah ada sejak tiga tahun lalu.

Namun, saat itu jumlahnya masih kecil dan tingkat semburannya masih bisa ditangani. Kepala Desa Sukaperna Hasanudin mengatakan, selama tiga tahun tersebut warga sudah mengadukan hal ini kepada pemerintah.

Awalnya, kata dia, semburan hanya terjadi di 50 titik. Seiring berjalannya waktu, semburan gas semakin meluas hingga 195 titik semburan di rumah warga. Tak heran warga cemas semburan lumpur akan membesar seperti Lapindo di Sidoarjo.

Dia menambahkan, banyaknya semburan gas tersebut memicu kekesalan warga. Bahkan, kata dia, warga setempat sempat menggelar aksi unjur rasa, tetapi tak ada hasil.
"Hanya ada posko berdiri setelah masyarakat demo," kata dia.

Dia menjelaskan, saat ini masyarakat merasa tidak aman, tenang, dan nyaman. Selain dampak semburan di rumah-rumah, banyak masyarakat mengalami gangguan pernapasan, seperti asma, sesak napas, hingga gatal-gatal akibat air semburan gas tersebut menyentuh kulit manusia.
Apalagi tidak ada kompensasi yang diberikan pemerintah maupun instansi yang bertanggung jawab. Hasanudin berharap ada solusi nyata terkait semburan gas di desanya. Semoga juga tidak seperti Lapindo. "Desa kami dulu tenang dan damai," tutur dia.


[next]

Gas Masih Aman, Ini Penjelasan Pertamina

Gas campur lumpur meresahkan warga Indramayu
Semburan gas rawa bercampur lumpur di Desa Sukaperna, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, perlahan mulai ditangani. Semburan gas tersembur sudah dialirkan dan dibuang ke sungai setempat.

Direktur Umum Pertamina EP Nanang Abdul Manaf mengatakan, semburan gas di Sukaperna tidak ada kaitannya dengan aktivitas pengeboran Pertamina di sekitar lokasi. Hal tersebut terungkap setelah dilakukan uji laboratorium terhadap semburan tersebut.

"Gas rawa tidak diapa-apakan, juga muncul melalui retakan-retakan," ujar dia.

Namun demikian, Pertamina tetap berusaha menangani maraknya semburan gas tersebut. Terlebih, Pertamina melakukan aktivitas pengeboran di lokasi tersebut.

Salah satu upaya yang saat ini tengah ditempuh yakni dengan mengalirkan semburan gas menggunakan pipa PVC dan dibuang ke sungai. Hal tersebut supaya gas lebih terpusat sehingga tidak membahayakan masyarakat.

Selain itu, pada penanganan awal sumber gas di permukiman warga. Pertamina akan mengalirkan gas tersebut ke sumur migas yang dimilikinya. Tujuannya, agar tekanan di permukiman warga bisa berkurang karena disedot dan dialirkan.
Nanang meminta masyarakat turut membantu menciptakan suasana kondusif di lapangan agar para petugas dapat bekerja maksimal.

Tidak Berbahaya
Dia menegaskan, gas yang menyembur merupakan gas jenis metan. Gas tersebut, kata dia, tak berbahaya jika tidak dihirup secara langsung.
[post_ads_2]
Namun, yang mengkhawatirkan, gas metan akan sangat reaktif jika terpicu oleh api. "Seperti asap knalpot kendaraan kalau tidak dihirup secara langsung tidak berbahaya," ujar dia.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Herman Khaeron membenarkan semburan tersebut tidak ada kaitannya dengan aktivitas pengeboran Pertamina. Namun demikian tetap akan menimbulkan dampak.
"Yang terpenting ada jalan keluar," katanya.

Herman mengatakan, Pertamina, DPR , dan pihak terkait sudah sepakat akan memantau semburan gas di Tukdana.

"Saya kira nanti hal-hal lain kita bicarakan," ujar dia.
Dia meminta agar Pertamina membuka posko di lokasi semburan. Posko tersebut guna memudahkan pantauan dan komunikasi antara petuga dan masyarakat.

Lensa Indramayu  - Akibat gelombang besar dan cuaca buruk, satu perahu nelayan tradisional di Kabupaten Indramayu Jawa Barat pecah dihantam ombak besar pada Jum'at (12/1/2018).
Tim Sar sedang mengevakuasi korban
Perahu tersebut terdiri dari 4 nelayan, tiga diantaranya berhasil selamat, sedangkan satu orang lagi ditemukan meninggal.

Komandan Tim (dantim) Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS), Sertu SAR. Morgan, membenarkan bahwa ada peristiwa perahu nelayan pecah yang diduga akibat terhantam gelombang besar.

" Kami masih belum bisa memastikan penyebab kejadian tersebut, kami masih menunggu keterangan resmi dari hasil otopsi, dugaan sementara akibat perahu dihantam ombak besar " terang Morgan.

Setelah Tim SAR menerima laporan dari masyarakat bugel, mereka langsung melakukan pencarian yang dikomandoi oleh Dantim Morgan.

Menurut Morgan pencarian korban diawali dari titik 0113 1230 G tim mulai melakukan pencarian dari titik koordinat 06° 19' 27.6" S 108° 5' 14.4" E TPI Eretan Kab. Indramayu sampai dengan titik Koordinat tertentu dengan hasil nihil. Namun setelah dilakulan pencarian terus, akhirnya korban berhasil ditemukan.

Tim SAR yang dibantu satpolairud dan warga berhasil menemukan jasad korban, jam 14.00 WIB di Muara genteng 14/01/2018.

Di kesempatan yang sama, Kasat Polairud, AKP I Nyoman Oka, yang ikut mengevakuasi jenazah menerangkan bahwa identitas korban belum bisa memastikan bahwa itu jenazah Ilyas.

" Setelah dihadirkan pihak keluarga korban, mereka masih meragukan bahwa itu jenazah Ilyas, Karena dari ciri jenazah ada kelainan dengan ciri keluarganya, jadi tunggu hasil otopsi dulu" Terang Oka.

Saat ini Jenazah sudah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Losarang Indramayu.

Korban berhasil diidentifikasi.
[post_ads_2]
Beberapa jam setelah korban dievakuasi, korban yang meninggal berhasil diketahui identitasnya bahwa korban bernama Ilyas umur 55 jenis kelamin Laki-Laki, warga Desa Suka Haji Blok Sigron RT/RW.05/03 Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu.

Satpol Airud AKP I Nyoman Oka, mengungkapkan bahwa identitas diketahui setelah menjalani proses otopsi di Rumah Sakit Bhayangkara Losarang, Indramayu.

" Hasil otopsi dan keterangan pihak keluarga korban, menemui titik terang, bahwa betul itu adalah Ilyas dan sesui dengan ciri-ciri yang di terangkan pihak keluarga korban" kata Oka.

Sementara keluarga korban yang datang ke rumah sakit adalah Agus dan Ari yang merupakan anak dari korban dengab alamat Desa Sukahaji Kecamatan Patrol Kabupaten Indramayu.

Pena  : ARP
Editor : Redaktur

Lensa Indramayu  -Jika tekanan gas tinggi maka akan ditarik ke sumur milik Pertamina. Namun, jika tekanan rendah maka akan dibakar Pertamina.
Ilustrasi

PT Pertamina EP ikut turun tangan mengatasi semburan gas di Desa Pagedangan dan Desa Sukaperna, Kecamatan Tukdana Kabupaten Indramayu. Saat ini anak usaha PT Pertamina (Persero) itu tengah menyiapkan beberapa opsi mengatasi semburan tersebut.

Assistant Manager Legal & Relation PEP Jatibarang Field, Ery Ridwan mengatakan ada dua opsi yang dilakukan Pertamina untuk mengatasi semburan gas itu. Pertama, dengan menarik sumber gas itu ke dalam sumur lapangan yang dikelolanya atau BDA-02.

Penyedotan itu bisa dilakukan jika gas itu memiliki tekanan tinggi. Namun, bila tekanan gas yang menyembur ke permukaan itu rendah, Pertamina akan membakarnya. “Mudah-mudahan pressure-nya tinggi sehingga bisa ditarik kalau rendah di-flare,” ujar Ery, Jumat (12/1).

Menurut Ery semburan gas itu di Indramayu ini juga  tidak berbahaya karena merupakan hidro karbon. Jadi karakteristiknya kurang lebih sama dengan gas yang dihasilkan dari timbunan sampah.

Selain itu, PT Pertamina EP memastikan semburan gas itu  bukan berasal dari kebocoran lapangannya.  Ini karena tim Pertamina EP Jatibarang Field sudah memastikan kondisi aktivitas sumuran masih normal dan tidak ada kebocoran pada flowline (jalur arus) di sekitar lokasi.

Karakteristik gas yang ada berbeda dengan jenis yang berasal dari lapangan yang dikelolanya. Hasil uji lab yang dilakukan Pertamina EP Jatibarang Field, menyebutkan perbedaan itu terutama dalam kandungan Methane (C1) dan karbon dioksida (CO2).

Kemudian asal gas itu juga berbeda. “Perlu diketahui bahwa gas yang kami produksikan berasal dari kedalaman ±1.100 m sedangkan gas yang muncul ini merupakan gas dangkal dari sekitar kedalaman 100 - 200 meter,” kata Jatibarang Field Manager Herman Rachamdi berdasarkan keterangan resminya, dikutip Jumat (12/1).

Lensa Indramayu  - INDRAMAYU - Semburan air yang bercampur gas dan lumpur di lingkungan rumah warga di Desa Sukaperna, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, meresahkan warga.

Warga berkerumun di lokasi semburan gas / Ilustrasi
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Kamis (4/1), semburan tersebut muncul di beberapa titik, yaitu di pekarangan warga, dan ada juga yang muncul di dalam rumah warga.

Sebagian besar semburan muncul di daerah sumur bor warga. Warga merasa takut karena semburan yang keluar bisa menyala saat dibakar oleh api. Namun, ada pula sejumlah warga yang memanfaatkannya untuk keperluan memasak sehari-hari.

" Munculnya semburan itu kira-kira mulai lima bulanan yang lalu. Tapi semakin parah sejak seminggu terakhir," ujar salah seorang warga, Zaenab (55).

Zaenab mengatakan aroma gas tersebut sangat menyengat, sehingga sering mencium aroma tersebut. Sesak nafas pun seria dia alami. Zaenab menambahkan, semburan itu pun membuat air sumur di rumahnya kini tidak bisa digunakan lagi. Selain kotor, air sumur miliknya juga dipenuhi oleh lumpur. "Saya tidak mau pakai air sumur lagi. Takut nanti terjadi apa-apa," terang Zaenab.

Untuk keperluan sehari-hari, Zaenab kini terpaksa membeli air bersih. Dia pun harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air bersih. Seorang warga lainnya, Umi (65), menjelaskan, air semburan tersebut membanjiri pekarangan rumahnya. Bahkan, air semburan sampai masuk ke dalam rumahnya. "Semburannya ada aroma gasnya, walau tidak terlalu menyengat," tutur Umi.

Umi pun terpaksa menutup semburan itu dengan semen dan bata. Pasalnya,semburan itu memancar hingga cukup tinggi. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu, Edi Kusdiana, menjelaskan, berdasarkan pendataan, tercatat ada 135 rumah warga di desa itu yang mengeluarkan semburan air bercampur gas dan lumpur tersebut. "Semburannya ada yang di pekarangan, juga ada yang di dalam rumah warga," kata Edi.

Edi menerangkan, hingga saat ini masih ditelusuri penyebab semburan tersebut. Untuk mengantisipasi terjadinya peristiWa yang tidak diinginkan, BPBD telah menerjunkan petugasnya dan mendirikan posko di lokasi semburan. "Kami juga menyalurkan bantuan air bersih dengan mobil tangki karena sumur-sumur warga kini sudah tercemar oleh lumpur," ujar Edi.

Hingga saat ini, belum ada warga yang diungsikan. Namun, BPBD Indramayu sudah siap melakukan evakuasi terhadap masyarakat jika memang benar-benar dibutuhkan. (Red)

Lensa Indramayu  - Jakarta - Fenomena bulan super atau supermoon akan kembali terjadi pada 2 Januari 2018. Supermoon terjadi ketika bulan berada di posisi orbit terdekatnya dengan bumi. Sejumlah ilmuwan lebih suka menyebut supermoon dengan  perigee (bahasa Yunani), sedangkan untuk orbit terjauh bulan dengan bumi disebut apogee.
Supermoon

Dikutip dari laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), perigee akan terjadi di Indonesia pada 2 Januari 2018 pukul 04.54 WIB. Saat itu jarak bulan dengan bumi 356.566 kilometer (km), sehingga bulan akan terlihat lebih besar dan lebih terang.

Bulan purnama perigee pada 2018 akan terjadi pada 2 Januari 2018, 31 Januari 2018, dan 23 Desember 2018. Pada ketiga tanggal tersebut, ukuran semidiameter bulan lebih dari 16'.

Sementara itu, bulan purnama apogee  terjadi pada 28 Juni 2018, 28 Juli 2018, dan 26 Agustus 2018, dengan ukuran semidiameter bulan kurang dari 15’.

Dengan membandingkan kedua semidiameter tersebut diketahui bahwa semidiameter bulan saat perigee 14 persen lebih besar daripada semidiameter bulan saat apogee.

BMKG juga menyatakan saat purnama pada 31 Januari 2018 dan 28 Juli 2018 akan terjadi peristiwa gerhana bulan total yang dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia.

Lensa Indramayu  - Gempa bumi tektonik mengguncang Sukabumi, Jumat (15/12), sekitar pukul 23:04:39 WIB. Berkekuatan 4,5 skala richter dengan episenter terletak pada koordinat 7.29 LS dan 106.69 BT, gempa terjadi di kedalaman 50 km.

Informasi yang berhasil dihimpun tim redaksi, gempa di rasakan di berbagai kota di pulau jawa, termasuk Indramayu, masyarakat indramayu yang masih terjaga merasakan gempa bumi pada tengah malam sekitar jam 23:45 WIB.
Ilustrasi
Kepala BMKG Wilayah II Tangerang Selatan, Joko Siswanto melalui keterangan tertulis menyebut gempa ini dirasakan di wilayah Sukabumi dan sekitarnya termasuk Indramayu

Ia mengemukakakn, hingga saat ini belum ada laporan kerusakan akibat gempa di Sukabumi. Ia menengarai gempa dengan kedalaman hiposenter 50 km merupakan gempa kedalaman dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempeng Eurasia.

"Berdasarkan laporan masyarakat gempa bumi dirasakan di daerah Jampang dan Surade I SIG-BMKG (I-II MMI)," ujar Joko.

(Red)

Lensa Indramayu  - INDRAMAYU - Angin ribut menerjang tiga kecamatan di Kabupaten Indramayu pada Sabtu (9/12) sore kemarin. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, namun bencana itu mengakibatkan puluhan rumah warga dan sejumlah mushola mengalami kerusakan.
Rumah tertimpa pohon akibat angin ribut
Ketiga kecamatan yang diterjang bencana angin ribut adalah Kecamatan Terisi, Gabuswetan dan Sliyeg. Sejumlah warga yang rumahnya mengalami kerusakan harus dievakuasi ke balai desa setempat.

Angin ribut pertama kali melanda Kecamatan Terisi, khususnya Desa Plosokerep. Di desa tersebut, angin ribut menyebabkan 37 unit rumah warga dan dua buah mushola mengalami kerusakan.

Angin kemudian bergerak menuju Kecamatan Gabuswetan, yakni di Desa Sekarmulya dan Desa Rancamulya. Di kedua desa tersebut, yang mengakibatkan 18 unit rumah warga rusak, baik kerusakan ringan maupun sedang.

"Kerusakan rumah terutama pada bagian atap", kata Kepala Seksi Rehabilitasi BPBD Indramayu, Saptaji Aminuddin, Ahad (10/12).

Di Kecamatan Gabuswetan, kencangnya tiupan angin juga menyebabkan sejumlah tiang listrik roboh. Tiang listrik itu di areal persawahan dan jalan umum roboh.  Selain itu, sejumlah pohon besar yang juga tumbang menghalangi jalanumum.
Petugas di bantu warga setempat sedang memindahkan tiang listrik yang roboh di Jln kedokangabus ranchan /foto by.sulis
Dalam waktu hampir bersamaan, angin ribut juga melanda Kecamatan Sliyeg,terutama di Desa Sleman, Majasari, Mekargading dan Tambi Lor. Namun, di desa-desa tersebut, belum ada laporan kerusakan rumah milik warga.

Di wilayah kecamatan tersebut,di Desa Sleman, angin ribut membuat sebuah baliho berukuran besar tumbang hingga menutup jalan raya. Angin juga membuat pohon tumbang di jalan raya Desa Tambi Lor, Majasari dan Mekargading.

"Untuk nilai kerugian, belum bisa ditaksir. Masih dalam proses penghitungan," ujar Saptaji.

Usai bencana tersebut, aparat desa dan unsur muspika masing-masing bersama aparat kepolisian dan BPBD Indramayu langsung turun ke lokasi. Mereka membantu para korban dan membersihkan jalan raya yang tertutup pohon tumbang.

"Kami juga melakukan evakuasi warga yang rumahnya mengalami kerusakan ke balai desa setempat," tandas Kasubag Humas Polres Indramayu, AKP Heriyadi.

Red.

Lensa Indramayu - Sejumlah wilayah di pulau Jawa mengalami cuaca ekstrem sejak pekan lalu hingga saat ini. Beberapa daerah seperti di Pacitan, Yogyakarta, Magetan, Cilacap Banyumas, hingga wilayah Jawa Barat dan Banten menjadi wilayah yang paling terkena dampak cuaca ekstrem tersebut.
Ilustrasi / foto istimewa
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sejak pekan lalu telah meminta masyarakat untuk bersiaga menghadapi cuaca ekstrem ini. BMKG mendeteksi siklon tropis, yang dinamakan "cempaka' tumbuh sangat dekat dengan pesisir selatan Pulau Jawa.

"Siklon tropis Cempaka lahir, siaga cuaca ekstrem tiga hari ke depan," ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG R Mulyono Rahadi Prabowo kepada Liputan6.com, Jakarta, Selasa, 28 November 2017.

Adanya siklon tropis Cempaka di wilayah perairan sebelah Selatan Jawa Tengah mengakibatkan perubahan pola cuaca di sekitar lintasannya. Dampak yang ditimbulkan adanya siklon tropis Cempaka berupa potensi hujan di sejumlah daerah di Pulau Jawa.

"Potensi hujan lebat di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur," ujar Mulyono.

Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan Siklon tropis Cempaka ini, kata Sutopo akan luruh pada 2 Desember 2017.

"Dampak siklon per 29/11/2017 pagi 19 orang tewas, ribuan rumah terendam banjir dan kerusakan lainnya. Waspadalah," tandas Sutopo.
BMKG memperingatkan munculnya pusat tekanan rendah Badai Cempaka di Samudera Hindia selatan Jawa.
Pusat tekanan rendah ini memicu munculnya gelombang tinggi dan berpotensi menyebabkan cuaca ekstrem, terutama di Pulau Jawa bagian selatan, terutama di Kabupaten Banyumas, Cilacap, dan Kebumen, Jawa Tengah.

Prakirawan BMKG Pos Pengamatan Cilacap, Rendy Krisnawan mengatakan, gelombang di perairan Samudra Hindia berpotensi mencapai 2,5-4 meter di perairan lepas. Sementara, di perairan pantai, ombak berpotensi setinggi 2 meter.

Dia mengimbau agar nelayan perahu kecil lebih waspada dan dan tak berlayar melebihi 5 mil laut. Dengan begitu, saat muncul gelombang tinggi, nelayan bisa memacu perahu ke arah pantai dan terhindar dari bencana.

[next]Banjir, Longsor dan Badai

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho melansir lokasi bencana di selatan pulau Jawa.
Badai Cempaka berada sekitar 32 km sebelah selatan-tenggara Pacitan Provinsi Jawa Timur dengan kekuatan 65 km per jam.

Data sementara yang dihimpun Posko BNPB, bencana terjadi di Kabupaten Situbondo, Sidoarjo, Pacitan, Wonogiri, Ponorogo, Serang, Sukabumi, Purworejo, Tulungagung, Semarang, Klaten, Malang, Wonosobo, Klungkung, Kota Yogyakarta, Gunung Kidul, Kulon Progo, Sleman, Bantul, Kudus, dan Sukoharjo.

Pacitan sebagai lokasi yang paling dekat dengan Badai Cempaka mengawali bencana dengan hujan lebat sehingga menimbulkan banjir dan longsor pada Selasa, 28 November 2017 dini hari. Sungai-sungai meluap menyebabkan ribuan rumah terendam banjir.

Banjir meluas terjadi 13 desa di 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Pacitan (Desa Sirnoboyo, Desa Sukoharjo, Desa Kayen, Desa Kembang, Desa Ploso, Desa Arjowinangun, Desa Sidoharjo), Kecamatan Kebon Agung (Desa Purworejo, Desa Banjarjo, Desa Kebon Agung), dan Kecamatan Arjosari (Desa Pagutan, Desa Jatimalang, Desa Arjosari). Jalan lintas selatan lumpuh total.

Akibat cuaca ekstrem, banjir, longsor dan puting beliung juga melanda wilayah di DI Yogyakarta.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan cuaca ekstrem yang dipicu siklon tropis cempaka selama dua hari mengakibatkan 114 titik bencana di lima kabupaten/kota di DIY.

"Sebanyak 114 titik bencana itu terdiri atas bencana banjir, longsor, dan angin kencang," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta (BPBD DIY) Krido Suprayitno saat ditemui di Kantor Pusdalops BPBD DIY, Selasa malam 28 November 2017, dilansir Antara.

Krido mengatakan dari 114 titik itu, yang paling mendominasi adalah bencana angin kencang sebanyak 68 titik yang tersebar di Kabupaten Bantul yang teridentifikasi di 32 titik, Kulon Progo 12 titik, Gunung Kidul 28 titik, dan Kabupaten Sleman 12 titik.

Sedangkan bencana banjir terdapat di 29 titik dengan jumlah dominan di Kabupaten Gunung Kidul yang mencapai 20 titik dan 9 titik lainnya tersebar merata di kabupaten lainnya.
Krido menilai fenomena banjir yang dominan di Gunung Kidul selain disebabkan banyaknya cekungan, hal itu terjadi karena curah hujan di kabupaten itu tercatat mencapai 200 mili meter (mm) per hari atau lebih tinggi dari curah hujan di kabupaten lainnya.

"Ini fenomena yang tidak pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya karena Gunung Kidul biasanya terkenal sering dilanda kekeringan," kata dia.

[next]Pelabuhan Merak Tutup

Cuaca buruk yang terjadi selama sepekan ini berdampak besar pada aktivitas penyerengan di sejumlah pelabuhan. Akibat cuaca ekstrem ini, PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan Indonesia Ferry (ASDP Indonesia Ferry) sempat menutup sementara seluruh aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten. Sebab, tinggi gelombang laut bisa membahayakan penyeberangan di tengah Selat Sunda.
"Kami mohon pengertian kepada seluruh pengguna jasa penyeberangan Merak-Bakauheni, karena cuaca di Merak sangat ekstrem," ucap Intan Sugiharti selaku Pelaksana Tugas (Plt) Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry, Kamis (30/11/2017).

Karena ketinggian gelombang di Selat Sunda mencapai lima meter dengan kecepatan angin mencapai 45 knot, maka Pelabuhan Merak belum bisa dipastikan kapan akan dibuka kembali.
"Keputusan penutupan diambil berdasarkan rapat bersama antara PT ASDP Ferry Indonesia, Gapasdap, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) dan KSOP Merak," jelasnya.

Tak Hanya membuat tutup pelabuhan, cuaca ekstrem berpengaruh negatif terhadap perekonomian didaerah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas menyatakan, dalam peristiwa angin kencang yang dipicu badai Cempaka, Banyumas mengalami kerugian hingga Rp 700 juta lebih. Dan itu, hanya terjadi dalam waktu sehari.

Kerugian terbesar dialami oleh para peternak ayam pedaging di sejumlah kecamatan dan rumah yang rusak akibat tertimpa pohon tumbang.

Komandan Taruna Tanggap Bencana (Tagana) Kabupaten Banyumas, Heriana Ady Chandra menerangkan, bencana angin kencang dan hujan lebat di Banyumas pula menyebabkan puluhan rumah penduduk rusak. Rata-rata tertimpa pohon tumbang.

Dampak cuaca buruk merata di puluhan desa enam kecamatan. Di antaranya di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng dan Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas. Kemudian, Desa Sudimara, Kasegeran, Sokawera, Gununglurah, dan Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok.

"Pohon tumbang menimpa rumah, sehingga menyebabkan kerusakan. Ada juga jaringan listrik yang tertimpa, sehingga dilakukan pemadaman," kata Chandra, Sabtu (2/11/2017).

[next]Pemerintah Siaga

Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengimbau masyarakat agar berhati-hati dalam beraktivitas, mengingat ekstremnya cuaca beberapa waktu terakhir.

"Saya mengimbau kepada masyarakat ini memang cuacanya sangat ekstrem. Jadi agar berhati-hati," kata Jokowi di Gelanggang Renang Gelora Bung Karno, Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Sabtu, 2 Desember 2017.

Dia meminta masyarakat agar terus meningkatkan kewaspadaan. Terlebih karena intensitas hujan lebat yang kerap kali disertai angin kencang juga gelombang tinggi di laut masih tinggi.
"Tingkatkan terus kewaspadaan karena cuacanya memang, sekali lagi, cuacanya ekstrem. Hujan lebat, angin kencang juga ada gelombang yang tinggi. Semuanya hati-hati," ujar Jokowi.

Jokowi mengaku sudah memerintahkan jajarannya khususnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, Basarnas, kementerian/lembaga terkait, hingga pemda untuk mengantisipasi cuaca ekstrem ini.

"Saya sudah perintahkan kepada BNPB, TNI, Polri, Basarnas, kementerian yang terkait, pemda, semuanya untuk waspada dan membantu masyarakat apabila ada bencana secepat-cepatnya dan kita harus antisipasi dampak cuaca ekstrem ini, terutama pada produksi pangan," kata dia.

Meskipun, kata dia, sampai sekarang belum ada masalah terkait gangguan pasokan produksi pangan, hal itu harus tetap diantisipasi.

"Ini masih bulan Desember. Nanti masih ada bulan Januari," ujar Jokowi.
Jokowi pun menggarisbawahi pentingnya menjaga jalur-jalur logistik agar tidak terputus akibat bencana.
"Dan juga terutama jalur-jalur logistik jangan sampai putus karena adanya bencana. Ini juga harus betul-betul diantisipasi dan diwaspadai," tandas Jokowi.

[next]Fenomena Baru

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan Siklon Tropis Cempaka dan Dahlia yang melanda sebagian wilayah Jawa merupakan fenomena alam baru di Tanah Air.
"Memang yang namanya Siklon Cempaka dan Dahlia itu sesuatu yang baru yang terkonfirmasi kepada kita semua," kata Khofifah usai mengunjungi lokasi pengungsi banjir dan tanah longsor di Balai Desa Kebonagung Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (2/12/2017).
Hal ini, lanjut Mensos, harus menjadi bagian dari pembelajaran dan pengalaman bahwa wilayah Indonesia memungkinkan hal baru terkait alam sehingga harus menyiapkan berbagai langkah-langkah antisipasi dan mitigasi yang detail.

Mensos menjelaskan, hujan intensitas tinggi dengan kekuatan angin pada saat bersamaan sehingga timbul banjir bandang dan longsor terutama di wilayah Yogyakarta dan Pacitan itu teridentifiasi karena Siklon Tropis Cempaka.

"Nah itu bagian dari kemajuan IT (teknologi informasi) kita yang sudah bisa mendeteksi ada Siklon Tropis Cempaka dan Siklon Dahlia, kemudian juga melakukan mitigasi bagaimana meningkatkan kewaspadaan dan pemahaman kepada masyarakat," kata Khofifah.

Editor : Redaktur
Source : BMKG
Diberdayakan oleh Blogger.