Lensa Indramayu  - Indramayu Jabar


Indramayu__Wisata Kedung Cowet yang terletak di Desa Cemara Wetan Blok bong Kecamatan Cantigi kini bersolek diri dengan membuang jauh-jauh kesan angker yg melekat atas dirinya. Hijau, alami dan asri serta berkembang itulah yg tersemat pada kedung cowet saat sekarang , akan tetapi hal demikian tak menjadi sorotan di benak Pemerintah Indramayu, pasalnya akses jalan yang menjadi pendukung utama serta pengembangan fasilitas sarana prasarana wisata yang ada saat ini tak berbanding lurus dibanding dengan pesona alamnya yg terkenal elok.


Hal itu ditegaskan oleh Zainal selaku pengelola sekaligus promotor kompepar Kedung Cowet.  Kesan mistis yang selama ini menempel bertahap ia rubah agar menjadi tempat wisata keluarga yang menyenangkan.

" Perjuangan saya merubah kisah mistis kedung cowet lumayan berat pada fase awal pendirian, mulai dari pendanaan hingga menggerakkan kepedulian masyarakat banyak sekali tantangannya, pro dan kontra pun tak luput dari pengalaman waktu itu " papar Zainal saat sesi pengambilan video clip sebuah lagu di lokasi, pada sabtu 11/08/2018.


Namun Zainal merasa pemerintah seakan tutup mata dengan potensi wisata yang sedang ia perjuangkan. Perbaikan infrastruktur guna menunjang akses jalan masih jauh dari harapan.

Senada dengan Zainal, ketua pengelola Wisata Abdul Ajid memaparkan beberapa permasalahan yang sedang dialami dengan lambatnya perkembangan di Kedung Cowet ini, menurutnya peran pemerintah Indramayu tak sebanding dengan sosialisasi yang sering ia ikuti dibeberapa pertemuan forum komunikasi kompepar Indramayu (FKKI).

" Sering saya ikuti acara itu (FKKI), tapi hanya sebatas cerita saja buat kami, tidak satupun program sosialisasinya menyentuh dan mengatasi permasalahan di Kedung Cowet "

"Katanya Wisata di Indramayu harus Wonderfull Indonesia, tapi nyatanya hanya selogan saja". Tambahnya.

Pengajuan bantuan tak henti dilakukan oleh pengelola Wisata kepada Dinas Budaya dan Pariwisata Indramayu (DISBUDPAR), namun yg diperoleh hanya sebuah janji.

" Beberapa kali kami ketemu dengan Kabid Wisata Indramayu Bu Ella Sari, niatnya ya ingin bekerjasama sekaligus minta bantuan untuk pembangunan akses jalan dan fasilitas wisata, akan tetapi disetiap pertemuan hasilnya janji dan janji saja, gak ada yg ia wujudkan buat kami " ungkap Zainal lagi.

Padahal dengan kemajuan wisata di Indramayu akan memberikan dampak positip untuk pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Indramayu, dalam skema seperti ini akan terwujud timbal balik yg nyata antar pemerintah dan masyarakat.

Pena : Supriyadi Oi

Lensa Indramayu  - Generasi Muda Peduli Desa ( GMPD) Desa Rambatan Kulon dan group kesenian reog trio putra mendatangi wakil ketua  DPRD Indramayu Ruslandi di rumah kediamanya, Desa Kebulen Kecamatan Jatibarang Indramayu, Kamis (8/8).


Kesenian topeng reog  berbeda dengan Reog Ponorogo di Jawa Timur, Reog Indramayu merupakan perpaduan antara seni tari, lawak, lagu, dan cerita yang berisikan hiburan  sosial. namun selama ini belum ada perhatian yang serius dari Pemda Indramayu

Hal itu disampaikan oleh ketua GMPD Bangkir, Carlam saat menemui Ruslandi. Ia mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah terhadap kesenian lokal ini. Tidak heran kalau saat ini keberadaan mereka hampir punah ini.

“ Kesenian reog  Indramayu, kurang dikenal di generasi muda saat ini, pertunjukanya pun sudah mulai jarang  ditemui di acara-acara masyarakat. Peminatnya dari tahun ke tahun tterus berkurang ”. Jelas Carlam.

Dalam kunjungan silaturahmi tersebut Warjono selaku ketua group seni reog tiga putra menyampaikan harapan kedepannya agar Pemda bisa mengakomodir  segala upayanya untuk melestarikan kesenian topeng reog yang ia bina, karena selama ini dirinya merasa tak pernah ada sentuhan apapun dari pemda, padahal saat groupnya tampil di Kabupaten Sumedang ia dapat penghargaan dari pemerintah setempat di sana. Hal itu tentunya sangat miris.

" Sekarang coba cari grup topeng reog selain di Desa Rambatan Kulon dan Desa Krasak ,  pasti tidak ada karena kesenian ini nyaris punah. Nah, kami coba membangkitkannya lagi dengan sentuhan kekinian” ungkap Jono.

Dalam kesempatan itu Ruslandi sangat mengapresiasi upaya kawan- kawan group trio putra dan GMPD yang masih peduli dengan melestarikan kesenian yang hampir punah, kelompok seni reog mengingatkanya pada masa kecil dulu. Melihat pertunjukan kesenian itu kaya akan unsur budaya leluhur selain hiburan, juga terdapat nilai sosial dan pendidikan budi pekerti yang terkandung di dalamnya.

“ Kami akan mengagendakan rapat dengan Dinas Budpar terkait mekanisme apa yang bisa ditempuh dalam upaya melestarikan kebudayaan topeng reog yang hampir punah, serta kebutuhan anggaran yang bisa dialokasikan guna mewujudkanya " papar Ruslandi.

Perlu diketahui bahwa kesenian reog menggunakan dogdog (gendang) yang ditabuh, diiringi oleh gerak tari yang lucu dan mengemaskan oleh para pemainnya. Biasanya disampaikan dengan pesan-pesan sosial dan keagamaan. Dulu Kesenian ini masih bisa dijumpai pada saat lebaran idul fitri sebagai bentuk hiburan jalanan dalam rangka merayakan kemenangan umat Islam.

Pena : ARP
Editor: Redaktur



Ilustrasi Lensa Indramayu

LENSA INDRAMAYU  - Indramayu, hampir 2 priode visi misi remaja belum tuntas, visi itu tertuang dalam  perda tentang larangan minuman keras, yang berbunyi sebagai berikut,  perda nomor 15 tahun 2006, pasal 9, Setiap orang atau badan yang melanggar ketentuan Pasal 2 ayat (1) dan (2)
Peraturan Daerah ini diancam dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta) rupiah, perda ini seolah hanya di lembaran map saja,  karena miras masih mudah didapat mulai warung wedang hingga agen pun masih berkeliaran di tengah-tengah masyarakat, upaya Pemda memberantas minuman keras terlihat masih setengah hati, seperti di desa cangkingan kecamatan Kedokan bunder  kabupaten Indramayu, 26 Juli/ 2018

Larangan minuman keras hanya ucapan jempol di gedung wakil rakyat realisasi hanya kamuflase belaka, Minuman keras atau sering di sebut Miras yang selalu meresahkan masyarakat karena dampak dari miras sering sekali berdampak buruk di masyarakat.

Terkait miras ketua GMPD (generasi muda peduli desa) Indramayu Zaenal menuturkan ketika di wawancarai team lensa di kediamannya. “ hal itu tidak akan selasai ketika tidak ada langkah-langkah konkrit dari Pemda untuk memerangi miras tersebut”  tegas Zaenal

Upaya pemberantasan miras dari tahun ke tahun cuma menyisakan pemberitaan saja, stetmen Kapolres dan Bupati tak pernah mengurangi peredaran mihol, operasi yang di sebut target zero yang di beritakan tahun lalu, yang katanya tahun 2017 Indramayu bebas mihol nyatanya, peredaran miras di desa cangkingan masih mudah mendapatkan miras hal ini sangat miris dengan visi dan misi Remaja.

Kapolres Indramayu Arif fajurudin menyatakan, jajarannya akan terus melakukan razia gabungan bersama Satpol PP, TNI, dan instansi terkait lainnya. Selain itu, memasang layanan pengaduan untuk masyarakat yang  mengetahui peredaran dan distribusi miras agar dapat menyampaikan kepada jajarannya.

Tak hanya soal miras, pengaduan dari masyarakat juga bisa menyangkut tindak perjudian maupun peredaran dan penggunaan narkoba. "Informasi dari masyarakat itu akan kami tindaklanjuti,’’ ujar Arif.31/5/2017 di kutip dari media republik, online

Arif berharap, masyarakat bisa berperan aktif untuk bersama-sama memberantas peredaran miras. Dia menyatakan, target zero miras itu mustahil bisa tercapai tanpa adanya peran serta masyarakat. Arif pun mengapresiasi dukungan Pemkab Indramayu dalam mewujudkan target zero miras itu. Salah satu dukungan tersebut berupa anggaran dalam pelaksanaan giat razia miras.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Indramayu, Anna Sophanah, menyatakan, selama ini Kabupaten Indramayu telah memiliki Perda Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pelarangan Minuman Beralkohol di Kabupaten Indramayu. Dalam perda itu dinyatakan bahwa seluruh jenis minuman beralkohol tidak boleh beredar di Kabupaten Indramayu. "Saya berharap akhir 2017 Indramayu bebas miras,’’ tutur Anna.31/5/2017. Di kutip dari media Republik online.

Lensa Indramayu  - INDRAMAYU - Atika Permata Sari (12), baru pertama kali mengikuti Ngarot di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu.
Tika bersama teman-temannya siap diarak

Siswi kelas 6 SD Tamansari 1 itu, mengungkapkan perasaannya pasalnya meskipun pertama Kali Ikut Ngarot, Atika Permata Sari merasa bangga bisa melestarikan tradisi leluhur orang tuanya.

"Senang campur deg-degan" kata gadis yang akrab dipanggil tika tersebut, sembari dirias di kediamannya, di Desa lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Selasa (27/12/2017).

Tika mengatakan, bangga bisa berpartisipasi melestarikan tradisi di tanah kelahirannya.
Tika setelah selesai dirias

Saat ditemui ia sedang duduk di sebuah kursi kecil sambil dirias oleh tetangganya.

Tampak wajah gadis yang mengenakan kebaya putih itu telah dipoles makeup.

Kanedah (54), terlihat merangkaikan bunga warna-warni di rambutnya yang disanggul itu.

"Teman-teman sekolah juga banyak yang ikut," kata Tika singkat.

Setiap tahun tema Ngarot selalu berubah, khususnya dalam warna kebaya dan selendang yang dikenakan.
Atika Permata Sari yang dibantu beberapa saudaranya berdandan sebelum mengikuti Ngarot di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Rabu (27/12/2017). 
Kanedah (54) yang biasa merias gadis ngarot mengatakan, tiap tahunnya kebaya berbeda-beda tahun 2017 gadis Ngarot diwajibkan mengenakan kebaya putih, Pada 2016 kebaya yang dikenakan harus berwarna hijau.

Sementara riasan bunga dan lainnya selalu sama setiap tahunnya.

Hal tersebut sesuai keputusan panitia pelaksana Ngarot di Desa Lelea.

"Kalau ikut Ngarot biasanya dikasih uang sama saudara," kata Tika.

Ia mengatakan, uang tersebut dianggap sebagai biaya pengganti untuk mengikuti Ngarot. Pasalnya, untuk berpartisipasi dalam kegiatan itu membutuhkan biaya tidak sedikit.

Dalam Ngarot kali ini, orang tua Tika setidaknya telah mengeluarkan uang 1juta, sebab dari pemkab tidak memberikan dana bantuan untuk acara terbesar di Indramayu tersebut.

"Buat beli kebaya, bunga, sama alat make up. semuanya ditanggung sendiri" ujar orang tua tika.

Tahun ini, adalah tahun pertama bagi tika mengikuti kegiatan ngarot di Desanya.

Ngarot di Desa Lelea Tahun 2017 diikuti kira-kira 100-an muda mudi di desa tersebut.

Mereka sudah bersiap sejak pagi buta. Merias diri agar tampil secantik mungkin.

Perdasarkan pantauan Lensa Indramayu, Gadis Ngarot itu tampak sudah berkumpul di rumah Kepala Desa Lelea kira-kira pukul 09.00 WIB.

Selanjutnya mereka berbaris memanjang dan diarak keliling Desa Lelea.

Mereka berkeliling desa hingga menempuh jarak kira-kira sejauh 2 km sebelum finish di Balai Desa Lelea

Acara tersebut dipadati ribuan warga. Mereka tampak antusias menyaksikan arak-arakan Ngarot. (Red)

Lensa Indramayu  -  Tradisi Ngarot di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, sudah masuk kalender wisata tahunan Pemerintah Kabupaten Indramayu.
Para gadis Ngarot sebelum dimulainya prosesi saresehan di Balai Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Rabu (27/12/2017) 

Namun, tradisi itu belum mendapat bantuan dari APBD.

"Agenda rutin Pemkab Indramayu juga, tapi memang belum masuk APBD," kata Odang Kusmayadi, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) saat ditemui di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Rabu (27/12/2017).

Ia mengatakan, Ngarot juga masuk menjadi satu atraksi budaya di Festival Cimanuk.

Festival tersebut sudah menjadi agenda tahunan Pemkab Indramayu. Menurut Odang, saat ini Ngarot digelar dari hasil swadaya masyarakat.

Esensi tradisi Ngarot pun terletak di semangat gotong royong warga.

"APBD kan terbatas, jadi belum bisa menutupi tradisi Ngarot ini," ujar Odang Kusmayadi.

Gelaran tradisi Ngarot tampak meriah, meski belum mendapat suntikan dana APBD.

Para peserta masih menanggung sendiri kebutuhan berbagai perlengkapannya.

Dari mulai setelan kebaya, bunga, dan peralatan make up.

Selain itu, kebutuhan lainnya didapat dari hasil panen di tanah adat seluas 2,6 hektare yang sudah dikelola secara turun-temurun oleh Kepala Desa Lelea.

Suasana malam kota Indramayu dari atas
Lensa Indramayu - Indramayu merupakan salah satu daerah yang menarik, namun belum semua orang tahu akan keindahan alam maupun kebudayaan Indramayu, sehingga kini mulai banyak orang yang mencari informasi tentang Indramayu, baik informasi tentang potensi wisata di Indramayu, maupun beragam kesenian dan kebudayaan khas Indramayu.

Penduduk Kabupaten Indramayu merupakan campuran suku sunda dan Jawa, dimana budaya yang tumbuh dan berkembang merupakan bentuk implementasi ekspresi masyarakat setempat yang dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan Sunda sehingga bentuk kebudayaan nya merupakan akulturasi dari kedua kebudayaan tersebut.

Kesenian kabupaten Indramayu sangat beraneka ragam dan itu merupakan sebuah seni yang wajib dilestarikan. Jika kita berbicara Indramayu, berarti kita berbicara masalah kesenian kabupaten Indramayu yang sangat majemuk. Mungkin karena sangat beragamnya kami tidak bisa mengulas secara detail. Berbicara Indramayu, yang terlintas di pikiran kita adalah Jawa Barat dan juga pantura. Ya, karena Indramayu memang berada di Provinsi Jawa Barat dan juga dilewati oleh jalur Pantura atau Pantai Utara.

Apa Saja Kesenian dan Kebudayaan Khas Indramayu? Mari kita ulas satu per satu :

1.Tari Topeng
Tari topeng sebenarnya kesenian yang berasal dari daerah Cirebon, termasuk juga Indramayu. Tarian ini merupakan salah satu tarian di tatar Parahyangan. Penari nya memakai topeng saat menari, itulah sebabnya tarian ini dinamakan Tari Topeng. Tari topeng ini juga beraneka ragam dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan maupun cerita yang ingin disampaikan dalam tarian tersebut. Gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab merupakan ciri khas lain dari tari topeng. Sampai sekarang kesenian tari topeng ini masih eksis dipelajari di sanggar-sanggar tari dan juga sering dipentaskan saat acara resmi daerah. Salah satu sanggar Tari Topeng yang ada di Indramayu adalah Sanggar Tari Topeng milik Mimi Rasinah, Maestro Tari Topeng yang telah wafat pada bulan Agustus 2010.

2.Mapag Dewi Sri
Menurut kepercayaan masyarakat Indramayu, tradisi Mapag Dewi Sri wajib diadakan setiap tahun nya. Menurut cerita, pada tahun 1970-an pernah tidak melakukan ritual ini dikarenakan jumlah panen yang sedikit. Akibatnya banyak masyarakat setempat yang sakit. Semenjak itu pesta rakyat ini selalu diadakan tiap tahunnya tanpa melihat hasil panen.

3.Sintren
Sintren sebenarnya salah satu kesenian yang dimiliki oleh Masyarakat Jasa. Kesenian ini terkenal di pesisir Utara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Banyak yang menyebut Sintren denfan sebutan Lais, dan di Indramayu sintren dipentaskan pada saat acara tertentu saja.

4.Genjring Akrobat
Merupakan pertunjukkan dengan menggunakan tangga sebagai medianya, sepeda roda satu dan lain sebagainya. Genjring Akrobat dalam penyajian nya di iringi alat musik Genjring/Rebana dengan dilengkapi tari Rudat.

5.Sandiwara
Kesenian ini hampir sama dengan seni pertunjukkan ketoprak yang berasal dari Jawa. Kesenian sandiwara di Kabupaten Indramayu biasanya mengisahkan tentang legenda dan sejarah yaitu sebuah pertunjukkan pentasan sebuah cerita atau disebut pula lakon dalam bahasa Jawa.

6.Tarling
Tarling merupakan seni musik yang ditampilkan dengan menggunakan gitar dan suling. Dimana Gitar dan Suling menjadi pengiring dalam kesenian ini. Kesenian ini mengikuti perkembangan zaman, karena sekarang tarling tidak hanya di iringi dengan gitar dan suling melainkan juga dilengkapi dengan alat musik modern.

7.Wayang Kulit
Kesenian ini memang sudah melekat pada masyarakat Jawa pada umumnya, begitu pula denga Indramayu. Karena kesenian wayang kulit ini masih melekat pada masyarakat Indramayu. Dan wayang kulit Indramayu sama seperti wayang kulit Jawa, yang berbeda hanya bahasa saat mementaskan nya.

8.Berokan
Berokan merupakan kesenian yang berasal dari Indramayu, dimana kesenian ini hampir sama dengan kesenian barongsai yang berasal dari Cina.

9.Singa Depok dan Kebo Ngamuk
Kesenian ini mirip dengan kesenian sisingaan yang berasal dari Indramayu, dimana kesenian ini hampir sama dengan kesenian barongsai yang berasal dari Cina.
Singa Depok dan Kebo Ngamuk
Kesenian ini mirip dengan kesenian sisingaan yang berasal dari Subang dan mulai dimodifikasi dengan adanya Kebo Ngamuk dan Burok

10.Batik Tulis Paoman (Batik Indramayu)
Ini merupakan kesenian tulis yang berasal dari kabupaten Indramayu. Batik ini memiliki ciri khas pesisir dengan corak yang berbeda dengan batik dari daerah lain. Perpaduan antara kepercayaan, adat istiadat, seni dan lingkunga kehidupan pesisir, ditambah lagi adanya pengaruh dari luar ikut mempengaruhi terbentuknya motif dan karakter batik tulis pesisir.

Kesenian Kabupaten Indramayu sebenarnya ada beberapa yang mirip/sama dengan daerah lain. Namun, tentu saja mempunyai beberapa perbedaan yang menciri khaskan daerah Indramayu. Jika anda melewati jalur pantura jangan lupa mampir ke Indramayu untuk melihat kesenian Indramayu yang unik dan indah atau sekedar mencicipi wisata kuliner khas Indramayu.

Indonesia Memang Kaya akan Khasanah Budaya Bangsa yang dilahirkan dari Nenek Moyang Kita salah satunnya adalah Jenis Kesenian atau tarian di Jawa Barat Yakni Tari Jaipong.
Pentas seni tari jaipong asal jawa barat

Pengertian Tari Jaipong

Jaipongan adalah sebuah aliran seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman Berasal dari Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu.

Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.

Sebagai tarian pergaulan, tari Jaipong berhasil dikembangkan oleh Seniman Sunda menjadi tarian yang memasyarakat dan sangat digemari oleh masyarakat Jawa Barat (khususnya), bahkan populer sampai di luar Jawa Barat.

Menyebut Jaipongan sebenarnya tak hanya akan mengingatkan orang pada sejenis tari tradisi Sunda yang atraktif dengan gerak yang dinamis. Tangan, bahu, dan pinggul selalu menjadi bagian dominan dalam pola gerak yang lincah, diiringi oleh pukulan kendang. Terutama pada penari perempuan, seluruhnya itu selalu dibarengi dengan senyum manis dan kerlingan mata. Inilah sejenis tarian pergaulan dalam tradisi tari Sunda yang muncul pada akhir tahun 1970-an yang sampai hari ini popularitasnya masih hidup di tengah masyarakat.

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul.

Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.

Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu / Doger / Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu / Doger / Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini.

Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.
Diberdayakan oleh Blogger.