Lensa Indramayu  -Indramayu_Pemerintah Kabupaten Indramayu melalui Dinas Lingkungan Hidup kembali akan menggerakan 1.000 orang untuk membersihkan Sungai Cimanuk dan Prajagumiwang dalam kegiatan Grebeg Kali Bersih atau Program Kali Bersih (Prokasih). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-491 Kabupaten Indramayu dan peringatan World Clean Up Day 2018 se Jawa Barat atau Gerakan Pungut Sampah yang akan dilaksanakan pada Sabtu 15 September 2018 mendatang.

Kegiatan bersih bersih 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu, Aep Surahman mengatakan, yang akan menjadi titik kegiatan yakni sungai Cimanuk Lama dan Prajagumiwang. Kegiatan ini akan diikuti oleh peserta sebanyak 1.000 orang yang merupakan utusan dari TNI/Polri, SKPD, BUMN/BUMD, pelajar, dan masyarakat sekitarnya.

"Aep menjelaskan, yang menjadi objek kegiatan itu adalah sampah yang berada di Sungai Cimanuk dan Prajagumiwang serta di sisi kanan dan kiri dari sungai tersebut. Kemudian juga rumput liar dan materi yang menghambat laju air di Sungai Cimanuk dan Prajagumiwang,"

“ Kita konsen terhadap sampah yang masih ada di sungai, selain itu juga beberapa material yang menghambat air seperti rumpul liar, keramba, bangkai kapal, dan lainnya kita akan angkat untuk menjdikan Sungai Cimanuk dan Prajagumiwang bisa lebih bersih,” tegas Aep."(10/09)
Pembersihan sungai dari sampah plastik dan sejenisnya

Dengan kekuatan 1000 orang tersebut, rencananya akan dibagi kedalam 6 pos/lokasi agar mempermudah proses kegiatan. Disamping itu, pihaknya juga menyiapkan 2 buah excavator untuk mengangkat material yang berada di sungai.

Kegiatan ini sebagai upaya yang massif menciptakan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan apalagi di perairan sungai. Saat ini di Kabupaten Indramayu sudah ada Perda tentang K3 dan sosiaslisasinya sudah dilakukan dengan memasang berbagai papan informasi di sepanjang Sungai Cimanuk lama dan Prajagumiwang.

“Kami akan tegakkan perda ini, bersama dengan Sat Pol PP kami tidak tegas mereka yang membuang sampah sembarangan dan juga sanksi social lainnya,” tegas Aep.

Sai

Lensa Indramayu  -
Ilustrasi
Ketua Umum Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara dan Pengawas Anggaran Republik Indonesia (BPI KPNPA RI), Drs TB Rahmad Sukendar, menganggap, salah satu penyebab maraknya korupsi keuangan daerah adalah lemahnya keberadaan Badan Pengawas Daerah atau Inspektorat. Padahal, kata dia, Inspektorat merupakan Instansi Daerah yang mengawasi jalannya Pemerintahan Daerah (Pemda) dan Desa, sekaligus mencegah terjadinya korupsi sejak dini.

“ Inspektorat Daerah selama ini mandul!, dan sengaja tidak diperkuat sehingga pengawasan dan pencegahan terhadap praktik korupsi di daerah juga rendah. Ini mendorong maraknya kasus korupsi keuangan daerah dan penyalahgunaan Dana Desa oleh Oknum Kades,” ujar Rahmad, Senin (30/7).
Rahmad menilai, korupsi terjadi karena lemahnya sistem kontrol di tengah besarnya kekuasaan dan uang yang mengalir ke daerah. Untuk mencegah hal tersebut, tidak relevan lagi dengan mengurangi kekuasaan dan uang yang diperuntukkan kepada daerah. “ Salah satu caranya memperkuat sistem kontrol dengan memperkuat Inspektorat Daerah,” katanya.
Drs TB Rahmad Sukendar

Menurut Rahmad, Inspektorat ini mempunyai fungsi besar karena terlibat sejak perencanaan, implementasi, dan evaluasi Program Pemerintah Daerah. Jika kuat, maka inspektorat bisa sejak awal mencegah praktik korupsi.
Dia mengatakan, cara kerja Inspektorat berbeda dengan cara kerja Penegak Hukum atau Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). “ Kalau BPKP dan aparat Penegak Hukum, seperti Kepolisian dan Kejaksaan, bekerja dan bertindak setelah terjadi sesuatu, seperti pemadam kebakaran. Maka Inspektorat ini sebenarnya bekerja sebelum terjadinya korupsi. Inspektorat bekerja di hulu, seperti early warning system atau pencegahan dini,” kata dia.
Menurutnya, selama Inspektorat menjadi bagian Pemerintah Daerah, atau bawahan Kepala Daerah, sehingga tidak bisa melakukan pengawasan efektif. “ Inspektorat tidak bisa berbuat banyak, karena berada di bawah kekuasaan Kepala Daerah, ditambah lagi personalia di Inspektorat Daerah rata – rata orang buangan, orang yang jelang pensiun dan orang mau disingkirkan,” katanya.
Rahmad Sukendar menganjurkan tiga hal untuk memperkuat Inspektorat Daerah. Pertama, memperkuat otoritasnya, sehingga temuan Inspektorat tidak hanya menjadi rekomendasi, tetapi wajib dijalankan Kepala Dearah. Kedua, posisi Inspektorat harus diangkat menjadi lembaga vertikal dari Inspektorat Nasional, sehingga dia tidak berada di bawah Pemerintah Daerah.
Inspektorat Daerah harus dikeluarkan dari struktur Pemerintah Daerah agar efektif melakukan pengawasan. ” Secara tanggung jawab, dia bertanggung jawab ke Inspektorat Nasional, tetapi secara operasional, dia berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah,” tutur Rahmad
Ketiga, lanjut dia, Inspektorat harus diisi oleh orang yang kompeten, berkualitas dan berintegritas. ” Jangan hanya diisi oleh orang – orang buangan atau orang tua yang akan memasuki masa pensiun,” katanya lagi.
Ditambah maraknya pengaduaan masyarakat terhadap penyalahgunaan Dana Desa yang tidak pernah berjalan sampai ke meja hijau, Inspektorat terkesan menutup – nutupi hasil pemeriksaannya, dan bahkan menjadi konsultan para Kades, hingga akhirnya dugaan korupsi Dana Desa di pedesaan aman – aman saja tanpa tersentuh yang pada akhirnya masyarakat desa yang sangat dirugikan dan merasa kecewa karena tidak ada kepercayaan lagi terhadap Inspektorat di daerah, tandasnya. (Red AF)

Lensa Indramayu Maskadi, Kepala Desa cantigi wetan, Kecamatan Cantigi, menyebutkan program pembangunan jalan lingkungan di desa tersebut sejak saat ini dilakukan dengan kualitas terjamin.
Seroang pekerja sedang mengerjakan pengecoran jalan

Keterjaminan tersebut dibuktikan dengan konstruksi beton yang direkomendasikan oleh instansi teknis terkait. Maskadi menegaskan bahwa pembangunan ini sangat serius, mengingat dana yang digelontorkan senilai Rp.210.075.500 ini tergolong tidak sedikit, dan akan dimanfaatkan dengan baik.

"Dengan menggunakan truck molen yang memang diperuntukkan untuk melakukan pengecoran, diyakini akan memberikan hasil yang memuaskan,” akunya kepada wartawan lensa indramayu saat di temui di kantornya , didampingi Kaur Pembangunan. Senin 13/08/2018.

Maskadi menjelaskan, jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya konstruksi pembangunan jalan yang ada dilakukan dengan cara manual. Dan tak lama setelah dibangun, maka jalan itupun mengalami kerusakan di beberapa titik.

Di tempat terpisah wakil ketua PAC  PP(pemuda pancasila) Riyan Hidayat sangat mengapresiasi lagngkah-langkah maskadi, pasalnya baru kali ini dicantigi wetan jalan gang menggunakan rabat beton dengan kualitas Redy mix K 225.
[post_ads_2]
Semoga Desa Cantigi wetan bisa menjadi barometer desa-desa di kecamatan cantigi, karna kuwu sebelumnya tidak menggunakan rabat beton, biasanya pakai paving block atau kalau pakai beton juga secara  manual” Ucapnya.
Riyan menambahkan kwalitas yang sebelumnya tidak bisa terjamin, menurutnya rata-rata tidak bisa menyesuaikan campuran antara batu sprit, pasir , dan semen, “Kadang jenis pasirpun asal saja, hal ini akan berdampak pada kualitas beton, sementara kalau redy mix sudah di perhitungkan antara pasir, semen,dan batu split nya, Tambah Riyan.

Pena : Arp
Editor : Redaktur

Lensa Indramayu  - Indramayu Jawa Barat






Lensa Indramayu,  Bantuan Provinsi (Banprov) Tahun 2018 melalui Pemkab Indramayu sudah disalurkan kepada seluruh Pemerintahan Desa di kabupaten Indramayu. Salah satunya adalah Desa Sukasari Kecamatan Arahan. Bantuan senilai 100 jt itu dimanfaatkan Pemerintah Desa setempat untuk membangun Tembok Penahan Tanah (TPT).

Pada pelaksanaanya bantuan tersebut terkesan Asal asalan. Hal tersebut diungkapkan tokoh pemuda  masyarakat setempat Rudi (26) kepada Lensa Indramayu  saat ditemui di lokasi pekerjaan.18/07/2018

Diakui oleh tokoh muda ini, proyek perbaikan Tembok penyangga Tanah (TPT) tersebut kondisinya sangat kurang baik dan jauh dari harapan melihat anggaran yang begitu besar dan pembangunan yang terkesan asal berdiri  dan selesai.

" Tidak tahu kenapa pembangunannya seperti terkesan asal jadi, Penggunaan material pasir yang mengandung lumpur sangat disayangkan, tidak adanya galian  dalam pemasangan batu pondasi juga seperti disengaja, kekhawatiran saya sebagai masyarakat dalam hal demikian bukan tanpa alasan , Khawatir tidak awet dan ambruk tidak tahan lama " Rudi menjelaskan.




Terkait dengan itu, muncul pertanyaan Narasumber lain yang tidak mau di sebutkan namanya , apa benar dalam perencanaan nya proyek tersebut penggunaan  material pasir harus mengandung lumpur serta  tidak adanya penggalian untuk pondasi  atau hanya  akal – akalan oknum – oknum tertentu untuk meraup keuntungan demi meperkaya diri sendiri maupun berkelompok.

Kuat dugaan karena dikerjakan tidak sesuai bestek, Hak masyarakat  sebagai kontrol terselenggaranya  pembangunan di Desanya  memang di perlukan untuk ikut mengawasi , seperti yang tertuang dalam
Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (UU Desa) menjamin partisipasi aktif masyarakat.
Pasal 82 UU Desa menjamin hak masyarakat dalam bidang pemantauan dan pengawasan pembangunan desa.

“Sekarang pembangunannya masih berjalan.Saya dan warga masyarakat Desa Sukasari berharap agar dinas terkait turun langsung kelapangan untuk melihat kondisi proyek bantuan Provinsi tersebut. Kalau terindikasi ada penyimpangan seperti yang kami temukan maka harus diproses sesuai hukum,” harapnya. Lanjut pria ini menambahkan.


Dengan adanya partisipasi masyarakat dalam pengawasan anggaran  , supaya  dalam prakteknya dapat dikelola secara tertib, efektif, efisien dan taat pada ketentuan peraturan perundang-undangan.(Jo kpn)

Terlihat galian di jalan yang seperti galian kuburan, foto/arp
Lensa Indramayu  - Pengerjaan poros jalan di desa cemara wetan, blok bong, kecamatan Cantigi, kabupaten Indramayu, berkesan asal-asalan, pasalnya pengerasan jalan tersebut yang seharusnya merata tetapi hanya beberapa titik saja.
Salah satu pekerja sedang menggali jalan, yang kemudian diurug dengan batu. Foto/arp

Adapun pengerasan tersebut di setiap 100 meter di buat galian layaknya kuburan dengan perkiraan panjang 1 meter, lebar 2 meter dengan kedalaman 1/5 meter.

Hal itu dibenarkan oleh pekerja yang berinisial ST yang sedang menggali jalan, Saat ditanya wartawan mengatakan penggalian tersebut atas perintah sang mandor, agar menggali jalan dengan panjang 1 meter, lebar 2 meter dengan kedalaman 1/5 meter, Namun ST tidak bisa menerangkan lebih jelas fungsi dan kegunaan galian tersebut, ST Cuma menjalankan perintah atasanya.

“Saya Cuma di suruh menggali selesai mengali terus di timbun kembali saja” kata ST . Jum'at 13/juli/2018.

Berdasarkan pantauan wartawan, Proyek jalan tersebut tidak ditemukan informasi publik (papan proyek) sehingga publik sangat di butakan dengan informasi pengerjaan proyek jalan tersebut, yang seharusnya publik wajib mengetahui sesuai dengan amanat UU.No.14.tahun 2008. tentang keterbukaan informasi publik, yakni fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara, yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
[post_ads]
Supriyadi (30) yang merupakan warga setempat sekaligus anggota GMPD (generasi muda peduli desa) Desa Cemara, mengungkapkan pengerasan kali ini sangat membahayakan bagi pengendara motor, rawan pecah ban, dan rawan terpeleset, karena batu yang dipasang sangat runcing dan tidak bisa rata, "Bagaimana mau menaikan PAD desa dengan menaikan rating wisata Kedung cowet cemara, sementara akses jalannya seperti itu" kata Supriyadi.

Pena : Aripin
Editor: Redaktur

Lensa Indramayu  - Subang-Plt Bupati Subang H Ating Rusnatim SE beserta Camat Pusakanagara mendampingi Pj Gunernur Jawa Barat Komjen. Pol.DR. Drs. Mochamad Iriawan, S.H., M.M., M.H beserta staf jajarannya untuk  meninjau langsung Patimban (11/7/18)
Plt Gubernur Jawa Barat Tinjau Lokasi Infrastruktur  Patimban

Dalam peninjauanya Pj Gubernur Jawa Barat Menyampaikan kegiatan ini bertujuan untuk  melihat infrastruktur daerah dan masyrakat,  seperti pembangunan jalan maupun akses akses lainny.  Sehingga semua aspek oleh pemerintah daerah bisa terlaksana pembangunan Pelabuhan internasional, kami berpesan segera melaksanakan tupoksi tupoksi yang sudah ada.

Adapun lokasi pembangunan Pelabuhan Patimban yang telah dibebaskan mencapai 372 hektare dengan dana dari pemerintah pusat. Penetapan lokasinya sendiri telah dikeluarkan pemerintah pusat sejak 2016 lalu dan Pemprov Jabar.

Dalam rencana tahap groundbreaking di laksanakan di akhir bulan juli. Diharapkan groundbreaking Patimban bisa dilakukan langsung oleh Presiden Jokowi. Rencana groundbreaking tersebut akan digelar bertepatan dengan peninjauan lokasi pembangunan Pelabuhan Patimban oleh Presiden Jokowi.

Plt Bupati Subang H. Ating Rusnatim, SE berpesan untuk segera bisa terlaksana dan di bangun pelabuhan Patimban ini, berharap setelah nanti di bangun patimban bisa mengurangi angka pengangguran dan juga warga setempat mempunyai lahan usaha baru untuk di wilayah patimban nya.

Pemerintah Kabupaten Subang akan terus memantau pelaksanaan pembangunan patimban. Semoga kedepannya dengan adanya patimban pelabuhan internasional ini menjadi jawa Barat lebih maju dan semakin berkembang dari segi sektor perekonomian dan jasa angkutanya semakin lancar.

Ikut hadir juga Kementrian Perhubungan Laut /yang mewakili, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat beserta jajaranya, Kepala Kejaksaan Negeri Subang, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Subang beserta jajaranya, Danramil,  Kabag Ops, Kasatpolpp beserta jajarannya, Kabag infrastruktur Kabupaten Subang, Karang Taruna setempat.(Dit)

Proyek pengaspalan di desa panyingkiran kidul kec cantigi, kab Indramayu
Lensa Indramayu  - Cantigi - Di duga seorang oknum yang mengaku wartawan (sap) ikut membekingi pengerjaan jalan poros desa di panyingkiran kidul, kecamatan cantigi, Kabupaten Indramayu 2/5/2018. Pasalnya Keberadaanya di area proyek aspirasi dari anggota Dewan fraksi Golkar tersebut ia menjadi bagian security yang sengaja mempersulit awak media dalam sesi wawancara terhadap pelaksana proyek.

Wahyudi sebagai pemborong dengan jelas menyatakan kepada wartawan Lensa Indramayu, bahwa ia sudah memberi retribusi kepada Sap sebesar 400 ribu rupiah, "Disini juga sudah ada orang media, dia sudah saya kasih jatah 400 ribu agar menjadi juru bicara saya menanggapi pertanyaan wartawan di proyek saya ini" cetus Wahyudi saat dimintai keterangan perihal tidak adanya papan proyek.

Pengerjaan proyek diduga kurang efektif dan terburu-buru hingga belum menyentuh keinginan masyarakat, hal ini disampaikan langsung oleh masyarakat sekitar yg tengah berkumpul bersama keluarga di depan rumahnya, "Mas apa benar cuma begini saja pengaspalanya kok masih berantakan ya di depan rumah saya, yang di sana juga cuma tebal pinggirnya saja yg di tengahnya tipis, kan kalo musim hujan air ngumpul disitu kena ban mobil juga pasti amblas lagi" ungkap salah seorang warga yang sedang berkumpul di teras rumahnya kepada wartawan Lensa Indramayu.

Bersama salah seorang Warga yang tidak mau di sebutkan namanya awak media menyaksikan mereka mengukur ketebalan dan lebar jalan, dalam hasil pengukuranya mendapatkan ketebalan yang benar-benar membuat mereka kecewa yakni hanya 1 sampai 2cm saja dengan lebar 315cm.

Dengan temuan data tersebut awak media meminta keterangan kepada Wahyudi, namun lagi-lagi sap mengambil alih sesi wawancara dengan menjawab pertanyaan wartawan dengan seadanya," Masyarakat disini juga sudah bersyukur jalanya diaspal, kalo ada yang tidak senang itu tidak mungkin" kata sap..

Sap mengesankan bahwa kedatangan awak media seolah-olah ingin meminta jatah dari proyek pengaspalan tersebut. "Sesama orang lapangan harus saling mengerti, kita sama-sama butuh makan" ungkapnya lagi.

Dalam kejadian tersebut maka membuat awak media tidak diijinkan untuk meliput, sebab tidak dapat mengklarifikasi atas apa yang di keluhkan warga sekitar. (Red)

Gang Legok, blok kolot, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu yang jauh lebih kedalam harus melewati pematang sawah. (Jono/Lensi)
Lensa Indramayu  - Keprihatinan masyarakat tentang tidak adanya lampu penerangan jalan menuju pemukiman mereka rupanya menjadi pekerjaan berat bagi masyarakat setempat, yang seharusnya menjadi perhatian dan tangungjawab pemerintah Desa Legok Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu.

Kebersamaan menjadi langkah terbaik guna mempemersatu dan mempererat antara masyarakat satu dengan masyarakat yang lain. Keprihatinan masyarakat timbul karena minimnya penerangan jalan di sepanjang gang Legok, blok kolot, daerah yang seolah terisolir jauh lebih ke dalam perkampungan lagi.

Sebelumnya masyarakat Legok blok kolot sudah pernah menampung aspirasi bersama tentang keresahan tersebut dan menyampaikannya kepada kepala Desa (Kuwu) setempat. Setelah menggelar diskusi bersama antara kuwu dan masyarakat, pemerintah desa pun sepakat siap mengupayakan pembangunan lampu penerang jalan. Namun masyarakat kecewa karena janji tersebut tidak kunjung terealisasi.

Kondisi tidak adanya penerang jalan membuat masyarakat setempat merasa khawatir karena anak-anak mereka harus berangkat dan pulang mengaji dalan keadaan gelap. Melalui kesepakatan antar warga dibentuklah panitia swadaya yang digawangi para pemuda Desa Legok blok kolot sebagai bentuk kepedulianya.

Dari pantauan wartawan Lensa Indramayu di lapangan, keseluruhan warga yang menyepakati program tersebut adalah di Rw 03 yang meliputi 5 RT yakni RT 11, RT 12, RT 13, RT 14, dan RT 15, namun pembangunan tersebut baru dua RT yang sudah dipasang penerangan jalan umum (PJU) yakni Rt 11 dan Rt 14, dan itupun belum mencapai tahap keseluruhan
pembangunannya.

Warsita (37) warga setempat menjelaskan banyaknya kendala soal swadaya masyarakat sehingga semua PJU belum maksimal, Menurut Warsita kendalanya ada pada keterbatasan anggaran. sebagaimana diketahui olehnya bahwa ekonomi masyarakat di sana (blok Kolot) masih terbilang sangat memprihatinkan,
" Masih ada warga yang mengeluhkan karena begitu seringnya kegiatan swadaya diberlakukan sebelum pembangunan penerangan Jalan umum diadakan." Ujar pria yang akrab disapa batak tersebut kepada wartawan Lensa Indramayu, Kamis 26/04/18

Di tempat terpisah, Panitia swadaya Burhanudin (34) membenarkan bahwa kegiatan tersebut hasil dari swadaya masyarakat setempat " Benar mas kegiatan ini dari hasil Swadaya masyarakat blok kolot, Sekarang yang kami bangun baru sebatas dua RT, kami kasihan dengan kondisi perekonomian di sini kalau sering dibebankan ke warga" Terangnya.

Burhanudin menambahkan belum seluruhnya mendapat penerangan karena terkendala keterbatasan anggaran. menurutnya sudah hampir satu bulan berjalan ini, masyarakat terutama para pemudanya menanggung biaya token listrik karena memakai box Pulsa yang mereka beli dari dana yang dihimpun hasil swadaya , termasuk juga biaya perawatannya.

" Masyarakat di sini bisa dikatakan sangat mandiri, perhatian dan respon yang lambat dari para pemangku kebijakan, menjadi penyemangat dalam mencari alternatif terbaiknya yaitu swadaya dan kami sudah memulainya dengan kebersamaan dan gotong royong ". Tandas Burhan ( Jono )

jembatan penghubung Desa Legok Kolot ke Desa Krasak Bojong / foto by. Jono
Lensa Indramayu  - Masyarakat Legok kolot, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu akhirnya memilih berswadaya untuk membangun jembatan yang sering juga di gunakan pihak PT. Pertamina EP.

Sebab sudah bertahun-tahun setelah rusak dan roboh, jembatan penghubung Desa Legok Kolot ke Desa Krasak Bojong tersebut belum pernah dibangun kembali, Tidak kunjung terealisasi dan kurangnya perhatian dari pemerintah setempat, sehingga masyarakat sekitar mengambil inisiatif sendiri.
[post_ads]
Di pelopori oleh seoarang warga bernama Tarkam (42) mengajak masyarakat lainya untuk mengajukan pembangunan jembatan kepada Pemerintah Desa Legok, Guna mencari bantuan dari sejumlah perusahaan, serta meminta masyarakat untuk menyumbang membangun jembatan milik PT. Pertamina EP tersebut.

Setelah menjalani diskusi antara Pemerintah Desa dengan PT. Pertamina EP sepakat untuk memberi sumbangan material dan kontruksi besi.

Sedangkan untuk pengerjaan dan kebutuhan lainya Tarkam mengajak warga untuk bergotong-royong untuk membangun jembatan tersebut.

Saat ditemui wartawan Lensa Indramayu, Warsita (39) mengungkapkan sebelumnya pembangunan jembatan tersebut sudah pernah diusulkan. Bahkan peninjauan sudah dilakukan oleh sejumlah pemangku kebijakan. Namun tidak pernah direalisasi pembangunannya, hingga masyarakat meminta pemerintah desa untuk memilih membangun secara swadaya. "Karena tidak adanya respon dari pihak pemerintah maka kami berinisiatif untuk membangun jembatan tersebut secara gotong royong" Ungkapnya Senin 23/4/2018.

Di tempat terpisah warga lain menyebutkan bahwa PT. Pertamina EP hanya memberikan bahan material berupa besi kontruksi saja, sedangkan untuk bahan infsfraktuktur lainya seperti batu bata pasir dan semen pemerintah desa yang mengupayakan, dan untuk upah pekerja sekaligus kebutuhan lainya dibiayai oleh dana sawadaya yang di kumpulkan dari masyarakat legok kolot sendiri.
[post_ads_2]
Selama jembatan tersebut belum dibangun pihak PT Pertamina EP, beberapa tahun belakang menggunakan jembatan utama milik masyarakat sebagi akses mereka untuk meninjau/perawatan paralon gas atau servey lapangan lainya. "Ini menjadi kebutuhan bersama. Di satu sisi, masyarakat memang butuh, dan disisi lain sebelum jembatan rusak pihak PT. Pertamina EP juga sering menggunakannya" Kata warga yang tidak mau disebutkan namanya, Dia berharap respon pemerintah kedepannya tidak seperti sekarang ini yang berkesan lambat memberikan pelayanan publik. (Jono)

Lensa Indramayu  - Terkait jalan yang berlubang di sepanjang Jalur Pantura, Sat Lantas Polres Indramayu melalui Unit Dikyasa yang dipimpin oleh Kanit Dikyasa IPDA I Nyoman Gargita didampingi AIPTU H. Muh. Sana Krisdiana melakukan survey langsung di jalan dan koordinasi dengan pihak Dinas PU Bina Marga. Kamis, 25/01/2018.
[post_ads]
AIPTU H. Muh. Sana Krisdiana
Kasat Lantas Polres Indramayu melalui Kanit Dikyasa IPDA I Nyoman Gargita mengatakan bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan perintah Kapolres Indramayu AKBP Arif Fajarudin, SIK.MH.MAP. "Kami diperintahkan Kapolres supaya jajarannya melakukan survei langsung di jalan untuk mengecek jalanan yang berlubang" Terangnya.

Nyoman menambahkan bahwa pihaknya juga sudah bekerjasama dengan dinas PU Bina Marga.
[post_ads_2]
"Kami juga koordinasi dengan pihak PU Bina Marga agar segera memperbaiki/tambal jalan yang berlubang, Hal itu untuk mengantisipasi terjadinya laka lantas serta terwujudnya Kamseltibcar Lantas" pungkas Nyoman.

Sumber : Humas Polres Indramayu

Lensa Indramayu  - Jalan yang berada di Desa Penyingkiran kidul Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu, kondisinya rusak parah, Sejak awal 2017, Kerusakan itu mulai dari masjid Penyingkiran Kidul menuju arah Polsek Cantigi.
jalan penghubung dari Kecamatan Cantigi menuju ke Indramayu kota / foto by.arifin

Berdasarkan pantauan wartawan Lensa Indramayu, Kamis 22/12/2017, terlihat banyaknya jalan yang berlubang di sepanjang jalan penghubung dari desa di Kecamatan Cantigi menuju ke Indramayu kota. Kerusakan terparah yakni di Blok Rawan Desa Penyingkiran Kidul. Akibat tidak adanya perbaikan, jalan tersebut sehinga banyak jalan yang berlubang dan digenangi air keruh sisa hujan.

Dampak dari rusaknya jalan tersebut banyak warga sekitar yang mengeluh, salah satunya Sirojudin warga Blok Rawan Desa Penyingkiran kidul, menurut Sirojudin, jalan tersebut menjadi favorit masyarakat di daerah sekitar. Sebab jalan itu merupakan satu-satunya jalur terdekat yang menjadi pilihan para pengguna jalan yang akan menuju ke Indramayu kota.

"Akibat jalan rusak ini, sangat mempengaruhi penjualan saya, Sebab biasanya orang lewat sini banyak yang mampir ke toko saya, tapi karena jalan sini rusak, kebanyakan mereka lebih memilih jalan lain yang lebih bagus" Katanya.

Dia menambahkan banyak kecelakaan tunggal karena terpeleset, Belum lagi akibat dari genangan air tersebut, banyak pejalan kaki yang terkena percikan air ketika kendaraan melintasinya.

Di tempat terpisah kordinator GMPD Kecamatan Cantigi Mustopha menyayangkan dengan kondisi jalan tersebut. Ia berharap pemerintah daerah segera memperbaikinya.

"Memang kondisi jalan di sepanjang kurang lebih 2 km mengalami kerusakan yang cukup parah akibat curah hujan, karena merupakan jalan kabupaten, kami minta pemda segera turun tangan " ucap Mustopha

Mustopha menambahkan, tak hanya jalur Penyingkiran Kidul Blok Rawan saja yang mengalami kerusakan yang parah, sejumlah akses jalan yang ada di Panyingkiran kidul Arah Blok H. Ustam pun mengalami kerusakan yang sama menurutnya hal ini disebabkan curah hujan dan kualitas aspal yang asal-asalan kata Mustopha

Sementara pihak kecamatan, Camat Cantigi H.Hamami SAg, ketika di hubungi lewat sambungan seluler menuturkan jalan itu tidak ada perbaikan di tahun 2017, Karna Jalan itu sudah masuk program betonisasi di Tahun Anggaran 2018

”Masyarakat harus bersabar dulu, Nanti tahun 2018 di beton, Adapun panjang beton itu belum tahu, Tapi sudah masuk di Anggaran Tahun depan" Kata Hamami

Pena  : Arp
Editor: Redaktur
Diberdayakan oleh Blogger.