Lensa Indramayu  -Indramayu_Pemerintah Kabupaten Indramayu melalui Dinas Lingkungan Hidup kembali akan menggerakan 1.000 orang untuk membersihkan Sungai Cimanuk dan Prajagumiwang dalam kegiatan Grebeg Kali Bersih atau Program Kali Bersih (Prokasih). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-491 Kabupaten Indramayu dan peringatan World Clean Up Day 2018 se Jawa Barat atau Gerakan Pungut Sampah yang akan dilaksanakan pada Sabtu 15 September 2018 mendatang.

Kegiatan bersih bersih 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu, Aep Surahman mengatakan, yang akan menjadi titik kegiatan yakni sungai Cimanuk Lama dan Prajagumiwang. Kegiatan ini akan diikuti oleh peserta sebanyak 1.000 orang yang merupakan utusan dari TNI/Polri, SKPD, BUMN/BUMD, pelajar, dan masyarakat sekitarnya.

"Aep menjelaskan, yang menjadi objek kegiatan itu adalah sampah yang berada di Sungai Cimanuk dan Prajagumiwang serta di sisi kanan dan kiri dari sungai tersebut. Kemudian juga rumput liar dan materi yang menghambat laju air di Sungai Cimanuk dan Prajagumiwang,"

“ Kita konsen terhadap sampah yang masih ada di sungai, selain itu juga beberapa material yang menghambat air seperti rumpul liar, keramba, bangkai kapal, dan lainnya kita akan angkat untuk menjdikan Sungai Cimanuk dan Prajagumiwang bisa lebih bersih,” tegas Aep."(10/09)
Pembersihan sungai dari sampah plastik dan sejenisnya

Dengan kekuatan 1000 orang tersebut, rencananya akan dibagi kedalam 6 pos/lokasi agar mempermudah proses kegiatan. Disamping itu, pihaknya juga menyiapkan 2 buah excavator untuk mengangkat material yang berada di sungai.

Kegiatan ini sebagai upaya yang massif menciptakan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan apalagi di perairan sungai. Saat ini di Kabupaten Indramayu sudah ada Perda tentang K3 dan sosiaslisasinya sudah dilakukan dengan memasang berbagai papan informasi di sepanjang Sungai Cimanuk lama dan Prajagumiwang.

“Kami akan tegakkan perda ini, bersama dengan Sat Pol PP kami tidak tegas mereka yang membuang sampah sembarangan dan juga sanksi social lainnya,” tegas Aep.

Sai

Lensa Indramayu  - Presiden Joko Widodo meresmikan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Nelayan di Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Rabu.

Jokowi yang didampingi istrinya berfoto bersama bupati Indrama Hj Anna Shopannah di karangsong
Dalam peresmian itupun turut hadir gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Bupati Indramayu Ana Sopanah  dan anggotanya DPR komisi  VI Ono surono

Joko Widodo berpendapat keberadan LKM dapat bermanfaat bagi nelayan yang membutuhkan pinjaman untuk modal usaha, tetapi suku bunganya perlu diturunkan.

Presiden mengusulkan agar bunga pinjaman di lembaga itu diturunkan dari 7 persen menjadi 3 persen per tahun, “suku bunga harus bisa membantu masyarakat nelayan dan budi daya ikan dan udang yang kesulitan permodalan” tegas presiden saat menghadiri peresmian LKN di desa karang song kecamatan Indramayu. Indramayu.27/05/2018

Kehadiran lembaga keuangan nelayan di harapkan bisa  menjadi alternatif mengatasi keluhan para nelayan. Dan bisa  menjadi pemantik, agar nelayan bisa mengembangkan usaha mikronya yang selama ini buntu karena  faktor permodalan, presiden, pada berbagai pertemuan dengan nelayan, seringkali mendapat keluhan masalah permodalan dan pembiayaan, sehingga menyambut baik kehadiran LKM Nelayan. Ujar presiden

Pembiayaan usaha mikro nelayan ini dikelola oleh Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP) yang merupakan Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

"BLU tidak mencari keuntungan, yang penting dananya mutar di nelayan," kata Presiden, menyebut alasan mengusulkan penurunan bunga pinjaman di lembaga itu.

Presiden juga berpesan agar para nelayan cermat dalam menggunakan uang pinjaman agar lebih produktif.

Kepada Sugiman, anggota bakul ikan dari Indramayu, yang meminjam sebesar Rp40 juta dari LKM, Presiden mengingatkan agar pinjaman tersebut digunakan sepenuhnya untuk usaha yang sedang di jalan kan selama in, agar usahanya makin besar

"Kalau mau pinjam  tanya bunganya. Agar bisa tau kalkulasi antara bunga dan pelaksanaan antara biaya produksi dan penjualan hasil usahanya agar bisa mengembalikan dseluruhnya untuk modal kerja, modal usaha. Jangan dibelikan yang lain. Jangan sampai 20 juta buat beli motor," ujar Presiden.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga sempat berbincang dengan nelayan, salah satunya adalah Carikam.

Carikam adalah seorang nelayan budi daya udang vaname. Ia meminjam Rp50 juta dan ketika panen setelah 3 bulan, keuntungan yang didapat sebesar Rp50 juta.

"Tapi kalau itu waktu harga bagus. Kalau sekarang harga turun, keuntungannya Rp25 juta," ucap Carikam.

Ia meminta kepada Presiden untuk menaikkan harga udang vaname.

"Ya permintaan saya kepada pemerintah khususnya untuk meningkatkan ini Pak, harga (udang vaname)," ujarnya.

Presiden menanggapi aspirasi Carikam dengan menjelaskan bahwa pemerintah tidak bisa mengintervensi urusan harga.

"Ya urusan harga itu `enggak` mungkin pemerintah intervensi, harga itu ditentukan oleh pasar. Kalau produksinya banyak, permintaan berkurang, ya, pasti harganya turun, otomatis," katanya.

Oleh karena itu, Presiden pun menyarankan agar nelayan bisa memperhitungkan kapan harga naik atau turun, sehingga bisa menentukan juga kapan mulai menanam udang.

"Tapi kalau bisa kayak (udang) vaname ini yang banyak `kan untuk ekspor juga, ya, tolong dilihat kapan kita memulai menanam udang itu dan kapan panen. Dihitung betul sehingga harga itu betul-betul kita tahu kapan harga pas naik kapan pas harga turun," tuturnya.

sementara menurut anggota DPR RI komisi VI Ono surono saat di wawancarai lembaga keuangan ini bisa menjadikan nelayan meningkat tarap hidupnya sementara ketika di tanya mekanis me pengawasannya Ono surono belum mengetahui” mekanis me pengawasan belum ada” tegas Ono surono

Di Karangsong, Indramayu, merupakan pertama kalinya penyaluran dana BLU LPMUKP melalui LKM, yakni Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Jasa Hasil Windu dan Koperasi Perikanan Laut (KPL) Mina Sumitra.

Plafon yang disetujui masing-masing adalah Rp2 miliar untuk 100 orang pembudi daya dalam Pokdakan Jasa Hasil Windu dan Rp8 miliar untuk 323 nelayan yang tergabung dalam KPL Mina Sumitra.

Skema permohonan pengajuan pinjaman atau pembiayaan dana bergulir ini sangat terjangkau bagi pelaku usaha, terutama untuk skala yang belum terjangkau Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Lensa Indramayu  - INDRAMAYU --  Mengingat besarnya risiko yang dihadapi nelayan di laut, mereka pun diminta untuk mengikuti asuransi nelayan mandiri.
Sejumlah nelayan membongkar Cumi-Cumi dari sebuah perahu sebelum di jual di Karangsong, Indramayu, Jawa Barat

Namun Baru separuh nelayan kecil di Kabupaten Indramayu mengikuti program Asuransi Nelayan yang digulirkan Pemerintah Pusat.

Kepala Bidang Pemberdayaan Nelayan Kecil Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, Asep Suryana, menyebutkan, dari total jumlah nelayan di Kabupaten Indramayu yang mencapai 39 ribu orang, sebanyak 25 ribu orang di antaranya merupakan nelayan kecil. Dari 25 ribu orang nelayan kecil itu, yang ikut Asuransi Nelayan dari Pemerintah Pusat baru 12.866 orang.

Asep menjelaskan, dari 12.866 orang nelayan kecil yang mengikuti asuransi itu, sebanyak 5.160 orang di antaranya mengikutinya pada 2016. Sedangkan sisanya yang mencapai 7.706 orang, mengikuti asuransi pada 2017.

"Indramayu dapat jatah program Asuransi Nelayan dari Pemerintah Pusatnya memang hanya untuk 2016 dan 2017. Untuk tahun ini belum ada info lagi," kata Asep, Selasa (30/1).

Asep mengakui, meski awalnya sepi peminat, namun kesadaran nelayan di Indramayu untuk ikut Asuransi Nelayan yang digulirkan Pemerintah Pusat cukup tinggi. Hal itu terlihat dari realisasi program asuransi yang selalu melebihi target yang ditentukan.

Seperti pada 2016, terealisasi 5.160 orang dari target 5.000 orang. Begitu pula pada 2017, yang terealisasi 7.706 orang dari target 7.500 orang. Kelebihan jatah itu bisa dipenuhi setelah Indramayu mendapat limpahan dari daerah lain yang targetnya tidak terpenuhi.

Asep menerangkan, dalam program Asuransi Nelayan, premi yang dibayarkan hanya Rp 175 ribu per tahun. Sedangkan klaim yang berhak diperoleh keluarga nelayan adalah Rp 200 juta jika nelayan meninggal di laut dan Rp 160 juta jika nelayan meninggal di darat. Adapula klaim jika nelayan mengalami luka atau sakit lainnya.

Pada 2016 dan 2017, premi yang semestinya dibayar oleh nelayan itu ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Namun, keikutsertaan nelayan dalam program asuransi itu dibatasi hanya satu tahun.

"Untuk tahun berikutnya, nelayan bisa mengikuti asuransi mandiri, artinya harus bayar sendiri. Tapi besaran premi dan klaimnya sama dengan program Asuransi Nelayan yang dibayari oleh pemerintah," terang Asep.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, AR Hakim mengakui, kesadaran nelayan untuk mengikuti program asuransi nelayan mandiri memang masih kurang. Mereka menilai, asuransi menjadi kebutuhan nomor sekian dibandingkan kebutuhan pokok lainnya.

"Padahal nelayan sangat butuh asuransi karena risiko bahaya yang mereka hadapi di laut sangat besar," tegas Hakim.

Lensa Indramayu  - Buruknya cuaca disertai angin kencang yang megakibatkan ombak di laut  membuat nelayan enggan berlayar. Dengan kondisi seperti itu berdampak pada minimnya pasokan ikan dan membuat aktivitas di tempat pelelangan ikan (TPI) terhenti.
Sejumlah pekerja menyiapkan ikan sebelum lelang di tempat pelelangan ikan Karangsong, Indramayu, Jawa Barat, Jumat (26/2).
"Para nelayan banyak yang tidak melaut,sehingga pasokan ikan di TPI kosong. Aktivitas di TPI sama sekali tidak ada" kata Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Indramayu, Dedi Aryanto, seperti dikutip dari laman republika.co.id Senin (15/1).

Dedi mengatakan, kondisi tersebut terjadi di sebagian besar TPI di Kabupaten Indramayu. Dia menyebutkan TPI tersebut di antaranya TPI Tegalagung, TPI Dadap, TPI Glayem, TPI Majakerta, TPI Eretan Wetan, TPI Eretan Kulon, TPI Sukahaji, TPI Ujung Gebang, TPI Brondong, TPI Lombang dan TPI Limbangan.

Menurut Dedi, kosongnya pasokan ikan di TPI tersebut terjadi karena para nelayan tidak melaut. Hal itu menyusul kencangnya tiupan angin yang menyebabkan gelombang tinggi di laut.

"Angin kencang sudah sejak sepuluh hari terakhir ini," terang pria yang juga pengurus KUD Sri MinaSari Glayem Kecamatan Juntinyuat itu.

Dedi menambahkan, kondisi itu pun menyebabkan para nelayan, yang merupakan nelayan kecil, jadi tidak bisa memperoleh penghasilan. Pasalnya, melaut merupakan mata pencaharian utama mereka.

"Nelayan jadi paceklik," tutur Dedi.

Salah seorang nelayan di Blok Glayem, Desa/Kecamatan Juntinyuat, Sardi, mengatakan, angin kencang membuat nelayan kecil seperti dirinya benar-benar mengalami kesulitan. Sebab angin kencang bisa membuat perahu kecil miliknya mengalami kecelakaan di laut.

"Ya harus sabar menunggu hingga cuaca membaik," tandas Sardi, yang ditemui sedang memperbaiki jaring miliknya.

Lensa Indramayu - LHOKSEUMAWE – Musim hujan yang melanda wilayah Aceh, khususnya Lhokseumawe, membuat puluhan masyarakat lhokseumawe dan sekitarnya yang berprofesi  sebagai nelayan di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pusong, kota Lhoseumawe tidak melaut. Akibatnya, pasokan ikan menjadi berkurang dan harga di pasaran terus meningkat .
Nelayan asal aceh
Pantauan Wartawan di TPI  Puluhan kapal nelayan jaring tradisional dan boat berkapasitas 20 GT, 40 GT dan 60 GT, tidak beraktifitas dan memilih menepi di TPI Pusong, Lhokseumawe.

Seorang Nelayan Lhokseumawe, Sulaiman kepada Awak Media Jum'at, mengatakan, sudah 6 hari nelayan di daerah itu tidak melaut.
Penyebabnya, angin kencang dan hujan deras yang terus menerus, serta gelombang tinggi yang sedang melanda kawasan tersebut.

“Kalau cuaca buruk seperti ini, pendapatan ikan juga berkurang.
Biasanya sekali berlabuh bisa mendapatkan hasil setelah dijual, 400.000 s/d 500.000 ribu dibagi 4 orang, rata-rata 100.000 /org,Lanjutnya, jika cuaca mulai membaik para nelayan berencana akan kembali melaut pada minggu lusa.Para Nelayan sebagian memanfaat waktu untuk membersihkan dan merehab kapal mereka selama menepi di TPI Pusong dan  jika terlalu lama menepi, ditakutkan pasokan ikan di pasaran akan kosong dan harganya juga semakin melambung. (Muhd)
Diberdayakan oleh Blogger.