Lensa Indramayu  -
Ilustrasi
Ketua Umum Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara dan Pengawas Anggaran Republik Indonesia (BPI KPNPA RI), Drs TB Rahmad Sukendar, menganggap, salah satu penyebab maraknya korupsi keuangan daerah adalah lemahnya keberadaan Badan Pengawas Daerah atau Inspektorat. Padahal, kata dia, Inspektorat merupakan Instansi Daerah yang mengawasi jalannya Pemerintahan Daerah (Pemda) dan Desa, sekaligus mencegah terjadinya korupsi sejak dini.

“ Inspektorat Daerah selama ini mandul!, dan sengaja tidak diperkuat sehingga pengawasan dan pencegahan terhadap praktik korupsi di daerah juga rendah. Ini mendorong maraknya kasus korupsi keuangan daerah dan penyalahgunaan Dana Desa oleh Oknum Kades,” ujar Rahmad, Senin (30/7).
Rahmad menilai, korupsi terjadi karena lemahnya sistem kontrol di tengah besarnya kekuasaan dan uang yang mengalir ke daerah. Untuk mencegah hal tersebut, tidak relevan lagi dengan mengurangi kekuasaan dan uang yang diperuntukkan kepada daerah. “ Salah satu caranya memperkuat sistem kontrol dengan memperkuat Inspektorat Daerah,” katanya.
Drs TB Rahmad Sukendar

Menurut Rahmad, Inspektorat ini mempunyai fungsi besar karena terlibat sejak perencanaan, implementasi, dan evaluasi Program Pemerintah Daerah. Jika kuat, maka inspektorat bisa sejak awal mencegah praktik korupsi.
Dia mengatakan, cara kerja Inspektorat berbeda dengan cara kerja Penegak Hukum atau Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). “ Kalau BPKP dan aparat Penegak Hukum, seperti Kepolisian dan Kejaksaan, bekerja dan bertindak setelah terjadi sesuatu, seperti pemadam kebakaran. Maka Inspektorat ini sebenarnya bekerja sebelum terjadinya korupsi. Inspektorat bekerja di hulu, seperti early warning system atau pencegahan dini,” kata dia.
Menurutnya, selama Inspektorat menjadi bagian Pemerintah Daerah, atau bawahan Kepala Daerah, sehingga tidak bisa melakukan pengawasan efektif. “ Inspektorat tidak bisa berbuat banyak, karena berada di bawah kekuasaan Kepala Daerah, ditambah lagi personalia di Inspektorat Daerah rata – rata orang buangan, orang yang jelang pensiun dan orang mau disingkirkan,” katanya.
Rahmad Sukendar menganjurkan tiga hal untuk memperkuat Inspektorat Daerah. Pertama, memperkuat otoritasnya, sehingga temuan Inspektorat tidak hanya menjadi rekomendasi, tetapi wajib dijalankan Kepala Dearah. Kedua, posisi Inspektorat harus diangkat menjadi lembaga vertikal dari Inspektorat Nasional, sehingga dia tidak berada di bawah Pemerintah Daerah.
Inspektorat Daerah harus dikeluarkan dari struktur Pemerintah Daerah agar efektif melakukan pengawasan. ” Secara tanggung jawab, dia bertanggung jawab ke Inspektorat Nasional, tetapi secara operasional, dia berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah,” tutur Rahmad
Ketiga, lanjut dia, Inspektorat harus diisi oleh orang yang kompeten, berkualitas dan berintegritas. ” Jangan hanya diisi oleh orang – orang buangan atau orang tua yang akan memasuki masa pensiun,” katanya lagi.
Ditambah maraknya pengaduaan masyarakat terhadap penyalahgunaan Dana Desa yang tidak pernah berjalan sampai ke meja hijau, Inspektorat terkesan menutup – nutupi hasil pemeriksaannya, dan bahkan menjadi konsultan para Kades, hingga akhirnya dugaan korupsi Dana Desa di pedesaan aman – aman saja tanpa tersentuh yang pada akhirnya masyarakat desa yang sangat dirugikan dan merasa kecewa karena tidak ada kepercayaan lagi terhadap Inspektorat di daerah, tandasnya. (Red AF)

Lensa Indramayu  -

Rohadi menulis buku
Pict.Sedulur dan kerabat dari Indramayu di Lapas Sukamiskin

Bandung - Mantan Panitera Pengganti (PP) Pengadilan Negeri Jakarta Utara (Jakut), Rohadi yang kini mendekam di LP Sukamiskin, Bandung bersuara dan menguak terkait dugaan praktik mafia hukum di balik vonis Pedangdut Saiful Jamil.

Rohadi yang divonis tujuh tahun penjara berkisah mengenai dugaan mafia hukum dalam vonis kasus dugaan pencabulan yang dilakukan Saipul. Kesaksian itu disampaikan Rohadi melalui buku yang ditulisnya berjudul 'Menguak Praktek Mafia Hukum di Balik Vonis kasus Pedangdut Saipul Jamil'.

"Dari balik penjara, dia (Rohadi) bersuara bahwa sejumlah hakim terlibat di balik rendahnya vonis untuk Saipul Jamil. Suara-suara contoh kasus," ujar Kuasa Hukum Rohadi, Muhammad Zakir Rasyidin dalam bedah buku di Hotel Cemara, Menteng, Jakarta, Jumat (1/6/2018).

Kerabat Rohadi 

Zakir menganggap kliennya menjadi tumbal dalam vonis yang diterima Bang Ipul, sapaan akrab Saipul Jamil. Karenanya ia bersuara di dalam penjara. Dalam rekaman video dari penjara, Rohadi mengatakan, cerita tentang praktik mafia hukum pada pengadilan di Indonesia bukan hal baru.

"Tapi seperti apa bentuknya, bagaimana modusnya, belum pernah ada catatan tertulis yang menceritakannya. Kalaupun ada, mungkin hanya satu dua catatan saja. Maka saya terbitkan buku ini agar publik tahu bahwa mafia hukum itu bukan hanya sekadar isu," kata Rohadi dalam video yang diputar dalam diskusi.

Dalam bukunya, Rohadi memaparkan awal mula kasus yang menyeretnya ke Sukamiskin. Kala itu hakim dan pegawai PN Jakut akan menghadiri resepsi pernikahan seorang pegawainya di Solo, Jawa Tengah. Kesempatan itu juga hendak dijadikan ajang wisata mereka. Maka, Rohadi ditugasi mencari biaya untuk plesiran mereka.

Menurut Rohadi, dana yang digunakan untuk plesiran ini adalah dana awal dari Bertha yang tak lain pengacara Saipul. Menurutnya, untuk perkara Saipul Jamil Rp50 juta, dari saya pribadi Rp50 juta, dan tambahan dari hakim Rp20 juta. Total Rp120 juta.
Kemudian pergerakan Rohadi sudah tercium Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Akhirnya, dia ditangkap saat menerima uang dari Bertha menjelang Lebaran 2016.

Kasus ini semakin rumit karena saat KPK menangkapnya, ada uang Rp700 juta di dalam mobil Rohadi. Dan perkara hasil Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK ini merembet ke Anggota DPR Fraksi Gerindra, Sareh Wiyono. Sebab, menurut Rohadi, uang Rp700 juta itu berasal dari Sareh yang juga mantan Panitera MA. Meski demikian Sareh berkali-kali membantah terlibat dalam kasus itu.

Lewat bukunya juga, Rohadi menyebut nama-nama sejumlah hakim yang berperan dalam kasus itu. Suami Bertha, Hakim Tinggi Karel Tuppu dinilai mengetahui persoalan Saipul Jamil. Ketua majelis Saipul Jamil, Ifa Sudewi juga disebutnya tahu pat gulipat kasus itu. Dan seluruh nama-nama yang disebut Rohadi telah membantah keterangannya di persidangan.

"Lewat buku ini saya ingin publik tahu kasus yang menjerat saya ini. Mulai dari modusnya, hingga nama-nama yang terlibat. Dan semoga hukum bisa tegak, termasuk kepada para hakim dan penegak hukum lainnya," pungkasnya.KRI







Lensa Indramayu  - Sejumlah warga masyarakat Kecamatan Cantigi mendatangi komisi IV DPRD Indramayu, Rabu (1/8), kedatangan mereka terkait buruknya pembangunan jalan poros Desa Cemara Wetan blok bong dan Cor beton di Cantigi kulon.

DPRD kabupaten Indramayu
Warga yang datang langsung disambut baik oleh H.Drs. Muhaemin selaku ketua komisi IV DPRD Indramayu dalam pemaparanya warga menilai pelaksanaan pembangunan jalan ei Cantigi penuh kejanggalan terutama dilihat dari segi spek dan volume.

Lobi gedung Dewan Daerah kabupaten Indramayu

Dalam pertemuan tersebut mewakili masyarakat Cemara Wetan Supri (29),menjelaskan, bahwa pembangunan yang ada di desanya terindikasi banyak penyimpangan dilihat dari volume dan kualitas batu untuk yang dipakai dalam pengerasan jalan, di samping ketersediaan papan informasi yang terkesan ditutup - tutupi. Sulitnya masyarakat untuk dapat mengakses informasi berkaitan dengan pekerjaan pembangunanya menjadi pintu masuk para oknum untuk merampok volume dan kualitas pekerjaan.

" Bagi Badan Publik, penerapan keterbukaan informasi dapat mendorong perbaikan layanan, peningkatan kinerja, dan akuntabilitas program-program yang dijalankannya. Sementara bagi masyarakat, keterbukaan informasi bermanfaat guna terpenuhinya hak untuk mengetahui informasi publik, kita di sini sedang berperan aktif  mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan " jelas Supri

Supri yang juga pegiat sosial, menyampaikan bahwa sudah menjadi kewajiban pemerintah dan seluruh badan publik untuk memenuhi hak warga negara terhadap informasi publik, hal itu tidak ia temukan dalam  pekerjaan bangunan yang dikerjakan oleh pemerintah.

" Pembangunan jalan yang dijanjikan sejak tahun 2017 tidak sesuai dengan yang kami harapkan, kualitas batu asal-asalan, ditemukan layaknya model galian kuburan dan mereka (pekerja) tidak bisa  menjelaskan maksud model tersebut saat kami tanya " terang Supri.

Sementara itu aktifis GMPD (generasi muda peduli desa) Arifin (35)  yang juga warga masyarakat Cantigi,  ikut mengadukan perihal temuan yang dinilainya ada dugaan kong kali kong antara kontraktor, pengawas  PUPR , hal itu terlihat walaupun pengerjaan dibuat asal – asalan pekeejaan mereka terus berjalan tanpa ada teguran apa pun dari pengawas, padahal pengawas sering ditemui di tempat pekerjaan,

Aripin pun menjelaskan terkait temuanya, dugaan matrial beton titik awal dan akhir berbeda, di mana  titik awal sepanjang 100 meter betonnya seperti kurang campuran semen, diperkiraan memggunakan K 225, besi wiremes ukuran kecil dan  dipasang tidak tersambung  dan hanya dipasang setiap 10 meter, itupun dipasangnya setelah matrial beton turun  dan sudah diratakan baru besi dipasang, bukan itu aja dasaranpun tidak diratakan dulu, dan tidak ada plastik sedangkan plastik itu berfungsi sebagai penghindar serapan air langsung ke tanah agar matrial beton tidak cepat kering dan tidak mudah retak Kata Aripin.

Arifin menambahkan beberapa temuan yang Dia anggap sebagai penyelewengan diantaranya proyek dikerjakan malam hari, papan proyek yang tidak terpasang dan bestek yang asal asalan jauh dari standar cor beton.

"Aneh saja apakah dinas PUPR Kabupaten Indramayu ini melakukan  pembiaran, sebab saya sudah memberikan laporan bahwa ada kerugian negara di sana  tapi tidak ada respon sama sekali,saya juga kurang ngerti kenapa demikian," ujar Arifin

Dalam kesempatan tersebut ketua komisi IV Muhaemin menyayangkan hal seperti itu terjadi . Secara tekhnis volume tidak boleh kurang, terkait aduan seperti ini akan disikapi, yang sederhana saja bahwa papan informasi itu harus ada, dirinya sering menegur dinas terkait agar memperhatikan hal yang kecil dulu, seolah dinas yang disetir oleh para kontraktor katanya.

Sambung Arilin ia menyampaikan terimakasih atas masukannya, saya memahami kondisi Ini kami akan sikapi dari sisi anggaran dan sisi lainya termasuk lubang yang seperti galian kuburan. 

"Saya besok ada dua agenda di bukit barisan problemnya sama nanti kita bisa kroscek. Kita tahu kadangkala dinas yang diatur pemborong bukan sebaliknya " papar Muhaemin.

" Saya termasuk salah satu orang yang keras dalam hal ini , ketika bicara tentang mutu dan kualitas, bicara potensi daerah dan bicara soal reformasi  birokrasi hati saya juga prihatin " tandas Muhaemin.

Masyarakat berharap perlu adanya tindakan tegas dalam hal ini, bangunan yang asal jalan, praktek praktek curang yang sudah menjadi kebiasaan sepecepatnya harus dibenahi.

"Pertemuan hari ini jawabanya normatif menurut kami, ini menjadi sebuah kebiasaan yang dilakukan para kontraktor atau ada indikasi memang dinas bermain , harusnya dinas malu apabila diatur oleh pemborong " tutup Aripin. (Jo kp)



Ilustrasi Lensa Indramayu

LENSA INDRAMAYU  - Indramayu, hampir 2 priode visi misi remaja belum tuntas, visi itu tertuang dalam  perda tentang larangan minuman keras, yang berbunyi sebagai berikut,  perda nomor 15 tahun 2006, pasal 9, Setiap orang atau badan yang melanggar ketentuan Pasal 2 ayat (1) dan (2)
Peraturan Daerah ini diancam dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta) rupiah, perda ini seolah hanya di lembaran map saja,  karena miras masih mudah didapat mulai warung wedang hingga agen pun masih berkeliaran di tengah-tengah masyarakat, upaya Pemda memberantas minuman keras terlihat masih setengah hati, seperti di desa cangkingan kecamatan Kedokan bunder  kabupaten Indramayu, 26 Juli/ 2018

Larangan minuman keras hanya ucapan jempol di gedung wakil rakyat realisasi hanya kamuflase belaka, Minuman keras atau sering di sebut Miras yang selalu meresahkan masyarakat karena dampak dari miras sering sekali berdampak buruk di masyarakat.

Terkait miras ketua GMPD (generasi muda peduli desa) Indramayu Zaenal menuturkan ketika di wawancarai team lensa di kediamannya. “ hal itu tidak akan selasai ketika tidak ada langkah-langkah konkrit dari Pemda untuk memerangi miras tersebut”  tegas Zaenal

Upaya pemberantasan miras dari tahun ke tahun cuma menyisakan pemberitaan saja, stetmen Kapolres dan Bupati tak pernah mengurangi peredaran mihol, operasi yang di sebut target zero yang di beritakan tahun lalu, yang katanya tahun 2017 Indramayu bebas mihol nyatanya, peredaran miras di desa cangkingan masih mudah mendapatkan miras hal ini sangat miris dengan visi dan misi Remaja.

Kapolres Indramayu Arif fajurudin menyatakan, jajarannya akan terus melakukan razia gabungan bersama Satpol PP, TNI, dan instansi terkait lainnya. Selain itu, memasang layanan pengaduan untuk masyarakat yang  mengetahui peredaran dan distribusi miras agar dapat menyampaikan kepada jajarannya.

Tak hanya soal miras, pengaduan dari masyarakat juga bisa menyangkut tindak perjudian maupun peredaran dan penggunaan narkoba. "Informasi dari masyarakat itu akan kami tindaklanjuti,’’ ujar Arif.31/5/2017 di kutip dari media republik, online

Arif berharap, masyarakat bisa berperan aktif untuk bersama-sama memberantas peredaran miras. Dia menyatakan, target zero miras itu mustahil bisa tercapai tanpa adanya peran serta masyarakat. Arif pun mengapresiasi dukungan Pemkab Indramayu dalam mewujudkan target zero miras itu. Salah satu dukungan tersebut berupa anggaran dalam pelaksanaan giat razia miras.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Indramayu, Anna Sophanah, menyatakan, selama ini Kabupaten Indramayu telah memiliki Perda Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pelarangan Minuman Beralkohol di Kabupaten Indramayu. Dalam perda itu dinyatakan bahwa seluruh jenis minuman beralkohol tidak boleh beredar di Kabupaten Indramayu. "Saya berharap akhir 2017 Indramayu bebas miras,’’ tutur Anna.31/5/2017. Di kutip dari media Republik online.

Lensa Indramayu  - Indramayu - Sudah dua bulan Desa Krangkeng Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dilanda kekeringan, akibatnya sumber mata air yang berasal dari sumur dan sungai mengering.
Sejumlah warga mengantre saat pembagian bantuan air bersih Polres Indramayu di Desa Krangkeng, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Sabtu (21/7/2018). 

Wargapun terpaksa menggunakan air kubangan yang berwarna hijau untuk kebutuhan sehari-hari.

"Sumurnya kering, airnya cuma sedikit," kata Wadari, seorang warga saat ditemui dalam pembagian air bersih Polres Indramayu di Desa Krangkeng, Sabtu (21/7/2018).

Ia mengatakan, sejak awal Ramadan lalu warga Desa Krangkeng mulai kesulitan mendapatkan air bersih.

Senada dengan Wadari, warga lainnya Sambari mengatakan setiap pagi dan sore hari, dia dan warga lainnya harus mengangkut air yang berwarna hijau kehitaman itu untuk digunakan mandi, cuci dan kaskus.

"Kami terpaksa menggunakan air yang berwarna hijau ini, karena sumur mengering dan PDAM pun tak mengalir," kata seorang warga Desa Krangkeng, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Sambari di Indramayu.


Menurut Sambari, kekeringan yang melanda di Desanya itu sudah terjadi selama dua bulan, namun untuk penggunaan air kurang bagus itu baru beberapa hari.


Menurutnya air sumur sekarang sudah mengering dan untuk air PDAM sendiri macet, terkadang mengalir dan kebanyakan tidak mengalir.


"PDAM juga sudah tidak lancar, padahal kita harus membayar setiap bulannya," tuturnya.


Dia menambahkan warga sangat membutuhkan air bersih dan warga berharap pemerintah segera membantu kebutuhan yang sudah mendesak, karena dikhawatirkan dengan menggunakan air ini terus menerus akan mengganggu kesehatan.

Jalur sepanjang blok cabang, desa arahan lor, /photo by. Jhon kp
Lensa Indramayu  - Para orang tua sepertinya harus lebih serius memperhatikan perkembangan buah hatinya. Terlebih jika anak-anak ini mulai menginjak masa remaja. Rasa ingin tahu yang besar dalam diri mereka, berpotensi tinggi menjerumuskan para remaja ini ke pergaulan yang salah .

Bertempat Diareal bantaran ( tanggul kali ) cimanuk di sepanjang jalur blok cabang, Desa Arahan Lor, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu.

Menurut kesaksian warga yang berkebun di lokasi sekitar hampir di pastikan setiap hari tempat ini di jadikan tempat untuk berbuat mesum dan mabuk para remaja sekitar.

Warga yang tidak mau di sebutkan namanya mengatakan  mereka yang sering ketempat tersebut biasanya anak sekolah yang masih pakai baju seragam, "Di siang hari juga tempat ini di jadikan tongkrongan anak anak yang usianya nanggung untuk pacaran mabuk dengan meminum obat batuk dan sejenisnya" tandasnya. Minggu 01/07/18.

 Kenakalan remaja yang sepertinya tidak mengenal rasa takut dan malu terhadap lingkungan menjadikan tingkah juga perilaku sebagai faktor anak anak jaman sekarang seperti demikian.

Kondisi yang agak jauh dari pemukiman bersebrangan dengan pematang sawah dan ditunjang sepinya lokasi menjadikan bantaran kali sebagai tempat nongkrong dan pacaran.

Berdasarkan informasi yang dihimpun tim Lensa Indramayu, Tempat tersebut di jadikan tempat Aktifitas mesum di malam hari.
[post_ads_2]
Salah satu Narasumber yang berhasil kami temui di kediamanya AR (38), Pria yang bermata pencaharian sebagai tukang nyari burung di malam hari ini memaparkan pernah dalam suatu waktu dirinya memergoki pasangan yang sedang berbuat mesum di balik semak semak yang dekat dengan waduk pintu pengairan kesawah. "Waktu itu kurang lebih sekitar jam Sebelas malam ada Suara orang lagi pacaran tapi lama kelamaan saya lihat ternyata suaranya aneh, karena tidak berani menegur saya pura-pura tidak tahu saja mas, kalo di tegur jadinya kan gak enak sendiri" tandas pria tiga anak tetsebut.

Tingkah laku anak muda jaman sekarang seringkali dirasa jauh berbeda dengan anak muda zaman dulu.

Bahkan cara berpikir dan penampilan mereka pun juga kerap menjadi sorotan masyarakat. Mereka seolah sangat mudah terbawa arus trend demi eksistensinya diakui dan menjadi korban derasnya perubahan zaman.

Pena : Jhon KP
Editor : Redaktur

Lensa Indramayu  -Bambu sangat akrab dengan Bangsa Indonesia. Selain memiliki fungsi dan manfaat yang baik, bambu juga digunakan suku bangsa di Nusantara sebagai bahan bangunan, transportasi, kuliner, pengobatan, peralatan rumah tangga, hingga alat musik. Namun, mengapa bambu masih dianggap sebagai tanaman tidak memiliki nilai ekonomi yang tinggi?
Jono kp , jurnalis yang sudah memulai ekspedisinya di  Rambatan kulon blok Ningkong Lohbener Indramayu kamis 17/5/18.

Potret Sang Pengrajin Bambu Di Indramayu Kian Layu


 “Dalam perjalanan seorang pengrajin bambu di Indramayu yang berhasil ditemui oleh wartawan Lensa Indramayu beberapa waktu  lalu, seorang pengrajin bambu mengisahkan hampir sebagian besar masyarakat di Indramayu memanfaatkan bambu. Tapi hanya digunakan untuk pagar atau kebutuhan alat dapur,”
Para pengrajin bambu di Ningkong Rambatan kulon yang menggantungkan karya tangannya  sebagai mata pencaharian utama.

Selain mengelola bambu untuk barang rumah tangga seperti anyaman besek, kukusan, nampan dan seser, juga melakukan berbagai eksplorasi pembaharuan bambu desain dan modelnya berdasarkan kebutuhan  “Eksplorasi ini penting, sebab beberapa teman yang tertarik dengan bambu ada yang mampu membuatnya menjadi karya yang sedap dipandang dan bernilai ekonomis yang tinggi
Beberapa karya seni rupa kontemporer juga sangat menarik ketika mengeksplorasi bambu. Misalnya, beberapa karya seni rupa di objek wisata seperti di Ekowisata mangrove Kedung cowet, Situ Bolang Jatisura  yang jondol (Ranggon ) nya memakai bahan baku pembangunan dari bambu.

Nuraeni (39 tahun) salah satu pengrajin anyaman bambu mengungkapkan betapa besar perubahan yang dirasakannya, berbeda dengan beberapa tahun silam. “Kondisi sekarang ini berbeda” kata Nuraeni.
Nuraeni menjelaskan bahwa bahan baku dari bambu sudah terbilang mahal, “Bambu sudah menjadi bahan baku mahal, dan dominasi peralatan berbahan baku plastik yang terus menggerus minat pasar terhadap kerajinan bambu, pada akhirnya tetap saja apa yang saya ciptakan nilainya tidak sebanding dan terlalu rendah ketika kami jual.” Jelasnya.

Dia berharap pemerintah ikut membantu kepada para pengrajin bambu khususnya di daerah Indramayu.
“Pemerintah seharusnya mengembangkan industri perkayuan berbasis bambu. Sebab, selain memiliki fungsi ekologi yang baik, bambu juga sebagai sumber kayu yang berkelanjutan, Harapan saya  peran pemerintah sekarang ikut memasarkan dan mendongkrak apa yang kami hasilkan supaya bernilai rupiah tinggi, sebab sekarang kami bergantung ke tengkulak dan dihargai relatif kecil" Ujar Ibu tiga anak yang sering di panggil Nur ini.
Hal senada juga diungkapkan Tarsid (42) mengungkapkan, pasaran kerajinan bambu di Indramayu sepi peminatnya jauh lebih rendah dibandingkan di daerah lain seperti di sunda atau luar negeri.

"Mungkin harganya yang jauh lebih mahal dibandingkan berbahan baku kaca atau kayu, sementara dalam kehidupan sehari-hari bambu merupakan bahan yang tidak bernilai ekonomi tinggi dibandingkan kayu dari pohon.” Kata Pria berambut panjang ini.

Tarsid sangat berharap akan adanya dukungan dari pemerintah untuk memajukan kerajinannya.
“Menurut hemat saya, pemerintah perlu mendorong masyarakat untuk menggunakan peralatan rumah tangga yang menggunakan bambu. Sebab tanaman bambu sangat baik untuk lingkungan hidup, supaya tidak di tinggal peminat dan pengrajin, perlu adanya terobosan inovasi pelatihan bagi kami  dan saran pemasaran yang bagus supaya apa yang kami anggap mata pencaharian utama keluarga, terus berkelanjutan sampai seterusnya.” Katanya.
Tarsid mengisahkan berjalannya waktu Flashback ke beberapa tahun yang lalu, memang keadaan sekarang di Dusun Rambatan kulon Blok Ningkong, Rasanya agak  sangat berbeda dengan sekarang.

“Kalau tahun 90 sampai awal 2000an banyak kita jumpai pengrajin pengrajin yang kesehariannya menghabiskan waktunya menganyam kerajinan bambu di depan teras rumahnya,sekarang sangat sepi ,dan tersisa hanya beberapa gelintir orang yang Masi menggeluti usaha tersebut.” Kisahnya.

Berdasarkan pantauan wartawan Lensa Indramayu para pengrajin yang tersisa kebanyakan usianya sudah lanjut.
Di tempat terpisah seorang pengrajin lain Karno (39) mengungkapkan penghasilan dari menganyam tidak bisa menjadi harapan untuk anak-anak untuk melanjutkan apa yang ia kerjakan, dan melih pekerjaan lain. "sekarang anak-anak lebih memilih menjadi perantau di jakarta daripada menggantungkan penghasilan dari menganyam mas, sebab ya beginilah keadaanya, sebab sekarang beda dengan dulu " Karno menutup pembicaraannya. (Jono KP) Sang Pengrajin Bambu Di Indramayu yang Kian Layu
Bambu sangat akrab dengan Bangsa Indonesia. Selain memiliki fungsi dan manfaat yang baik, bambu juga digunakan suku bangsa di Nusantara sebagai bahan bangunan, transportasi, kuliner, pengobatan, peralatan rumah tangga, hingga alat musik. Namun, mengapa bambu masih dianggap sebagai tanaman tidak memiliki nilai ekonomi yang tinggi?
[next]
Jono kp , jurnalis yang sudah memulai ekspedisinya di  Rambatan kulon blok Ningkong Lohbener Indramayu kamis 17/5/18

 “Dalam perjalanan seorang pengrajin bambu di Indramayu yang berhasil ditemui oleh wartawan Lensa Indramayu beberapa waktu  lalu, seorang pengrajin bambu mengisahkan hampir sebagian besar masyarakat di Indramayu memanfaatkan bambu. Tapi hanya digunakan untuk pagar atau kebutuhan alat dapur,”
Para pengrajin bambu di Ningkong Rambatan kulon yang menggantungkan karya tangannya  sebagai mata pencaharian utama.

Selain mengelola bambu untuk barang rumah tangga seperti anyaman besek, kukusan, nampan dan seser, juga melakukan berbagai eksplorasi pembaharuan bambu desain dan modelnya berdasarkan kebutuhan  “Eksplorasi ini penting, sebab beberapa teman yang tertarik dengan bambu ada yang mampu membuatnya menjadi karya yang sedap dipandang dan bernilai ekonomis yang tinggi
Beberapa karya seni rupa kontemporer juga sangat menarik ketika mengeksplorasi bambu. Misalnya, beberapa karya seni rupa di objek wisata seperti di Ekowisata mangrove Kedung cowet, Situ Bolang Jatisura  yang jondol (Ranggon ) nya memakai bahan baku pembangunan dari bambu.

Nuraeni (39 tahun) salah satu pengrajin anyaman bambu mengungkapkan betapa besar perubahan yang dirasakannya, berbeda dengan beberapa tahun silam. “Kondisi sekarang ini berbeda” kata Nuraeni.

Nuraeni menjelaskan bahwa bahan baku dari bambu sudah terbilang mahal, “Bambu sudah menjadi bahan baku mahal, dan dominasi peralatan berbahan baku plastik yang terus menggerus minat pasar terhadap kerajinan bambu, pada akhirnya tetap saja apa yang saya ciptakan nilainya tidak sebanding dan terlalu rendah ketika kami jual.” Jelasnya.

Dia berharap pemerintah ikut membantu kepada para pengrajin bambu khususnya di daerah Indramayu.
“Pemerintah seharusnya mengembangkan industri perkayuan berbasis bambu. Sebab, selain memiliki fungsi ekologi yang baik, bambu juga sebagai sumber kayu yang berkelanjutan, Harapan saya  peran pemerintah sekarang ikut memasarkan dan mendongkrak apa yang kami hasilkan supaya bernilai rupiah tinggi, sebab sekarang kami bergantung ke tengkulak dan dihargai relatif kecil" Ujar Ibu tiga anak yang sering di panggil Nur ini.

Hal senada juga diungkapkan Tarsid (42) mengungkapkan, pasaran kerajinan bambu di Indramayu sepi peminatnya jauh lebih rendah dibandingkan di daerah lain seperti di sunda atau luar negeri.
[next]
"Mungkin harganya yang jauh lebih mahal dibandingkan berbahan baku kaca atau kayu, sementara dalam kehidupan sehari-hari bambu merupakan bahan yang tidak bernilai ekonomi tinggi dibandingkan kayu dari pohon.” Kata Pria berambut panjang ini.

Tarsid sangat berharap akan adanya dukungan dari pemerintah untuk memajukan kerajinannya.
“Menurut hemat saya, pemerintah perlu mendorong masyarakat untuk menggunakan peralatan rumah tangga yang menggunakan bambu. Sebab tanaman bambu sangat baik untuk lingkungan hidup, supaya tidak di tinggal peminat dan pengrajin, perlu adanya terobosan inovasi pelatihan bagi kami  dan saran pemasaran yang bagus supaya apa yang kami anggap mata pencaharian utama keluarga, terus berkelanjutan sampai seterusnya.” Katanya.
Tarsid mengisahkan berjalannya waktu Flashback ke beberapa tahun yang lalu, memang keadaan sekarang di Dusun Rambatan kulon Blok Ningkong, Rasanya agak  sangat berbeda dengan sekarang.

“Kalau tahun 90 sampai awal 2000an banyak kita jumpai pengrajin pengrajin yang kesehariannya menghabiskan waktunya menganyam kerajinan bambu di depan teras rumahnya,sekarang sangat sepi ,dan tersisa hanya beberapa gelintir orang yang Masi menggeluti usaha tersebut.” Kisahnya.

Berdasarkan pantauan wartawan Lensa Indramayu para pengrajin yang tersisa kebanyakan usianya sudah lanjut.
Di tempat terpisah seorang pengrajin lain Karno (39) mengungkapkan penghasilan dari menganyam tidak bisa menjadi harapan untuk anak-anak untuk melanjutkan apa yang ia kerjakan, dan melih pekerjaan lain. "sekarang anak-anak lebih memilih menjadi perantau di jakarta daripada menggantungkan penghasilan dari menganyam mas, sebab ya beginilah keadaanya, sebab sekarang beda dengan dulu " Karno menutup pembicaraannya. (Jono KP)

Lensa Indramayu  - CIREBON – Memiliki rumah yang layak, hidup serba ada, tidurpun bisa pulas, hal tersebut sangat diidamkan oleh semua orang. Tetapi potret itu tidak untuk keluarga sepasang suami istri warga Desa Adi Darma Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon.
Tak Jauh Dari Rumah Bupati Cirebon, Suhud Hidup Serba Tak Layak

Pasangan suami istri yang diketahui bernama Suhud (90) dan Tarmi (80) hanya tidur beratapkan plastik terpal dan tidur beralaskan karpet.

Kehidupan pasangan suami istri yang tidak memiliki anak ini jauh dari apa yang banyak diidamkan oleh banyak orang.
[post_ads]
Kita tau bahwa Provinsi Jawa Barat menerapkan Kabupaten Cirebon adalah Kota Cirebon Metropolitan, banyak industri-industri yang begitu cepat berdiri pesat, belum lagi pemukiman-pemukiman baru juga begitu cepat merambah dari ujung barat hingga timur Kabupaten Cirebon.

Tapi dibalik itu semua potret yang sangat miris justru timpang dari apa yang telah direncanakan oleh Pemerintah. Apalagi gubuk reot yang sehari-hari menjadi tempat tinggal lokasinya ini sangat tidak jauh dari rumah orang nomor satu di Kabupaten Cirebon.

Nasib malang dialami keluarga Suhud dan Tarmi. Sudah rumah yang ia tinggali sangat tak layak huni, mereka juga hanya bisa duduk dan melihat, karena sudah tak bisa melakukan aktivitas, potret tersebut sangat disayangkan karena kurangnya perhatian dari pihak aparat desa maupun pemerintah Kabupaten Cirebon.

Tetangga Suhud, Runi (50) mengungkapkan, mereka berdua tinggal digubug berukuran sangat kecil dan sudah lama, awalnya memang gubuk yang ditinggalinya awalnya atapnya memakai genteng, namun terkena musibah angin kencang yang melanda akhirnya rumah keluarga Suhud roboh dan ia terpaksa tinggal ditempat itu seadanya dan tidak mau meninggalkan tanah atau bangunan itu.

“Kalau untuk makan sehari-harinya hanya mengandalkan belas kasih dari tetangga. Saya juga kasihan melihatnya mas, apalagi  jika hujan gede, pokoknya keluarga Suhud tidak mau pindah dan tetap ingin tinggal ditempat seperti itu,” kata Runi.
[post_ads_2]
Dikatakan, dirinya tidak mengetahui persis kalau keluarga Suhud tinggal ditempat itu sejak kapan, juga tidak tahu persis tanahnya yang didirikan gubuk reot itu milik siapanya, soalnya sudah lama mereka di tempat itu.

“Pak Suhudnya sudah puluhan tahun tidak bisa jalan karena lumpuh, jadi kalau makan ya paling dari istrinya yang mencari, kalau tidak mengandalkan siapapun yang mau memberi,” tandas Runi. (Red)

Lensa Indramayu  - Sebanyak 21 desa/kelurahan di Kabupaten Indramayu masuk kategori kumuh. Untuk mengatasi masalah tersebut dinilai butuh kolaborasi semua pihak.
Wakil Bupati Indramayu, Supendi menjelaskan, berdasarkan hasil review Rencana Pengembangan Peningkatan Kawasan Pemukiman Kumuh (RP2KPK) tahun 2017, disebutkan 21desa/kelurahan kumuh itu tersebar di lima kecamatan. Kelimanya yakni Kecamatan Indramayu,Patrol, Jatibarang, Kandanghaur, dan Karangampel.
Pemukiman kumuh / Ilustrasi
"Kawasan kumuh di Kabupaten Indramayu ditetapkan seluas 534,34 hektare yang tersebar di 21 desa/kelurahan," kata Supendi, Jumat (2/2).
 [post_ads]
Adapun 21 desa/kelurahan itu, yakni Kelurahan Paoman, Kepandean, Karangmalang, Karanganyar, Lemahmekar, Lemahabang, Margadadi, Desa Pabeanudik, dan Karangsong (Kecamatan Indramayu). Selain itu, Desa Patrol dan Patrol Baru (KecamatanPatrol) serta Desa Jatibarang, Jatibarang Baru, Malangsemirang, dan Bulak (Kecamatan Jatibarang).

Ditambah lagi, Desa Eretan Wetan, Eretan Kulon dan Kertawinangun (Kecamatan Kandanghaur), serta Desa Karangampel Kidul, Karangampel, dan Benda (Kecamatan Karangampel).

Supendi mengatakan, sudah melakukan upaya untuk mengurangi luasan kumuh dengan pembangunan infrastruktur. Namun, upaya itu belum mampu mengurangi luasan kumuh secara signifikan mengingat cakupan pekerjaan dan skala pencapaian.

"Diperlukan kolaborasi semua pihak, baik itu pemerintah daerah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya agar sasaran tersebut dapat tercapai, " kata Supendi.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, telah meresmikan program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di Desa Malangsemirang, Kecamatan Jatibarang, Kamis (1/2). Dengan diresmikannya program tersebut, maka wilayah kumuh jadi berkurang dan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Menurut pria yang biasa disapa Demiz itu, Program Kotaku merupakan upaya strategis Direktorat Pengembangan Kawasan Permukiman, Ditjen Cipta Karya untuk meningkatkan peran masyarakat dan pemerintah daerah. Hal itu dalam upaya percepatan penanganan kawasan kumuh di perkotaan pada 2016-2020.

"Bagi desa-desa yang dapat program Kotaku, harus benar-benar bisa memanfaatkannya dengan baik, " kata Demiz.
[post_ads_2]
Demiz menambahkan, untuk menentukan derajat kesehatan, salah satunya faktor pendukungnya adalah sarana lingkungan yang sehat. Untuk itu, dengan tujuan program Kotaku guna mengurangi wilayah kumuh, maka diharapkan bisa meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Untuk mendukung terwujudnya tujuan program itu, di tingkat kelurahan/desa telah terbentuk kelembagaan yang representatif dan mengakar yang dinamakan Badan KeswadayaanMasyarakat (BKM).

Sementara itu, program Kotaku yang telah dilaksanakan di Desa Malangsemirang sejak 2017 yaknikegiatan bantuan Dana Investasi Kolaborasi (BDI) Kotaku sebesar Rp 200 juta,kegiatan jalan rabat beton dengan panjang 430, 3 meter, kegiatan drainase 174,7 meter, dan kegiatan pelatihan masyarakat sebesar Rp 8.800.000.

Lensa Indramayu  - Indramayu Jawa Barat, Tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Indramayu masih tinggi, dari tahun ke tahun selalu ada peningkatan.
Suasana di kantor disnaker Kab.Indramayu

Hal itu terlihat dari data Disnaker  Kabupaten Indramayu semenjak tahun 2016 berjumlah 15,586 orang dan tahun 2017 sebanyak 18,090 orang, kenaikanya mencapai ribuan.

Adapun jumlah sebaran dari tiap kecamatan pada tahun 2016 Kecamatan Anjatan 733 orang, Kecamatan Arahan 229 kecamatan Balongan 593, Bangodua 290, Bongas 396, Cantigi 311, Cikedung 263, Gabus Wetan 330, Gantar 130, Haurgelis 303, Indramayu 699, Jatibarang 715, Juntinyuat 1.363, Kandanghaur 537, Karangampel 767, Kedokan bunder 564, Kertasmaya 657. Kerangkeng 760. Kroya 326. Lelea 393. Lohbener 592, Losarang 381, Pasekan 175, Patrol 475, Sindang 387, Sliyeg 811, Sukagumiwang 474, Sukra 479, Terisi 446, Tukdana 628, Widasari 379.

Sementara tahun 2017 yang terdaftar di Disnaker Indramayu jumlah TKW (tenaga kerja wanita) lebih dominan dari jumlah TKL (tenaga kerja laki-laki) yakni 16.301 sementara TKL 1789. Adapun sebaranya sebagai berikut. Anjatan L 47 P 755. Jumlah 802 Arahan L 24 P 265 jumlah 289 Balongan L101 P 586 jumlah 687 Bangodua L 30 P 320 jumlah 350 Bongas L 27 P 442 jumlah 469  Cantigi L 37 P 294 Jumlah 331 Cikedung L 20 P 320 jumlah 340 Gabus wetan L 33 P 370 jumlah 403 Gantar L 7 P 190 jumlah 197 Haurgeulis L 17 P 368 Jumlah 385 Indramayu L 512 P 836 jumlah 1.384 Jatibarang L 61 P 716 Jumlah 777 juntinyuat L 182 P 1371 jumlah 1553 Kandanghaur L 42 P 606 jumlah 648 Karang ampel L 66 P 695 jumlah 761 Kedokan bunder L 43 P 512 Jumlah 555 Kertasemaya  L 42 P 715 jumlah 757 Krangkeng L 55 P 824 jumlah 879 Kroya L 24 P 420 jumlah 444 Lelea L 56 P 450 jumlah 506 Lohbener L 46 P 568 jumlah 614 Losarang L 22 P 402 jumlah 424 Pasekan L 22 P 155 jumlah 177 Patrol L 18 P 479 jumlah 497 Sindang L 32 P 357 jumlah 389 Sliyeg L 81 P 836 jumlah 917 Sukagumiwang L 29 P 471 jumlah 500 Sukra L 18 P 457 jumlah 475 Terisi L 23 P 429 jumlah 452  Tukdana L 47 P 699 jumlah 746 Widasari L 25 P 393 jumlah 418.

Kepala Dinas Tenaga Kerja melalui sekdisnya Didik Sudikna Menuturkan bahwa meningkatnya TKI di Kabupaten Indramayu disebabkan banyak faktor diantaranya, ketidak tersediaanya lapangan pekerjaan di daerah sendiri. Indramayu ditunjuk sebagai daerah agraris bukan daerah industri katanya. Disamping itu faktor lainya pergeseran pola hidup masyarakat yang makin matrialistik kata Didik saat ditemui di ruang kerjanya Jumat, 02/02/2018

" Jumlah pencari kerja yang mengambil surat kuning dari Disnaker tahun 2017 mencapai angka 322.000 sementara kesempatan kerja di daerah tidak berbanding lurus. Hal itulah yang menyebabkan tingginya angka TKI " Ujar Didik.

Masih menurut Didik negara yang paling banyak dituju oleh para TKI adalah negara Taiwan, lebih dari 50 persen dari total 18.090 orang. Kebanyakan mereka bekerja di Yayasan-Yayasan  Panti Jompo kata Didik

Di tempat terpisah ketua komisi ll Bisma saat dihubungi lewat sambungan seluler, mengatakan bahwa bahnyak faktor yang menjadi penyebab tingginya TKI diantaranya adalah Faktor ekonomi dan pergeseran budaya, yang dulu gotong royong menjadi masyarakat yang individualis kata Bisma.

Keterkaitan dampak sosial di masyarakat akibat tingginya TKI tersebut adalah banyaknya anak yang tidak terkontrol akibat kurang perhatian dan kasih sayang orang tua hingga berdampak pada pisikologis anak. Menurut Bisma yang merupakan aleg PKS bahwa hal itu menjadi PR bersama yang dihadapi daerah kita katanya.

Bisma menambahkan tingginya angka percaraian di Indramayu salah satu faktornya adalah TKI. Hal ini seharusnya menjadi perhatian serius. Belum lagi permasalahan sosial lainya.

“ Permasalahan kemanusiaan sebenarnya jauh lebih banyak di TKI taiwan. Cuma di sana bukan negara muslim hingga meraka memperbolehkan aborsi. Beda dengan di timur tengah di sana haram hukumnya. Makanya banyak permasalahan yang terangkat kepublik. Sementara Asia tidak walaupun lebih banyak permasalahan sosialnya”  tandasnya.

Penulis: Aripin
editor  : Redaksi

Lensa Indramayu  -INDRAMAYU – Blok Jatirejo terletak di tengah kawasan hutan yang jauh dari jalan raya. Walaupun di dalam hutan, secara administrative pemerintahan masuk ke wilayah Desa Sukaselamet, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Sebagian  murid dan wali murid   foto di depan SD Kelas Jauh Blok Jatireja di kawasan hutan Desa  Sukaselamet, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Penduduk di blok ini sebagian pendatang dari Cikarang (Kabupaten Bekasi), Kabupaten Sumedang, Bandung, Malingping (Kabupaten Garut), Kabupaten Cirebon dan daerah lainnya. Sejak puluhan tahun silam mereka menetap dengan mata pencaharian sebagai petani penggarap pada lahan milik Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Indramayu. Ada juga sebagian penduduk dari Indramayu, seperti dari Kecamatan Bongas.
[post_ads]
Di bidang pendidikan, sudah beberapa tahun lalu, berdiri Sekolah Dasar. Ketika menyambangi ke Blok Jatirejo, Minggu (21/1/18) sempat bertemu dengan beberapa wali murid, di antaranya yaitu; Santi, Yanti dan Maryati. “SD ini tadinya kelas jauh dari Desa Sekarmulya, Kecamatan Gabuswetan. Sekarang kelas jauh dari SD di Desa Kedungdawa, Kecamatan Gabuswetan, Kepala Sekolahnya Pak Iman,” kata ibu-ibu tersebut.

Menurut mereka, pada Semester 1 tahun pelajaran 2017/2018 SD tersebut sempat memiliki seorang guru yaitu; Lela dari Majalengka. Namun sayangnya, satu-satunya guru di SD Kelas Jauh itu sekarang sudah berhenti, sehingga tidak ada lagi seorangpun guru yang mengajar.

Karena SD Jatirejo itu tak berguru maka tidak ada guru yang mengajar. Pada Semester II ini keberlangsungan pendidikan di sekolah itu dipertanyakan. Karena perjalanannya tersendat-sendat dan terkesan kurang maksimal. “Kalau pagi Kepala Sekolah datang hanya sebentar, lalu pulang lagi. Anak-anak belajarnya tidak maksimal,” kata mereka.

Kalau Kepala Sekolah dari SD Induk tidak hadir, anak-anak sering hanya menugggu di luar. Mereka ingin belajar seperti di SD-SD lainnya. Tapi apalah daya, karena tidak ada gurunya, anak-anak tidak ada yang membimbing. Sekolah sering tutup, tidak ada kegiatan pembelajaran.

Menurut anak-anak, murid SD Kelas Jauh ini berjumlah 28 anak. Terdiri dari Kelas I sebanyak 8 murid, Kelas II (6 murid), Kelas III (6 murid), Kelas IV (2 murid), Kelas V (5 murid) dan Kelas VI (1 murid). SD Kelas Jauh ini sudah punya bangunan. Walaupun kondisinya masih sederhana dan hanya memiliki 3 ruang pembelajaran.
[post_ads_2]
Salah seorang tokoh pendidik di Desa Sukaselamet, Kecamatan Kroya, Nur Amirin,S.Pd mengemukakan, kurang memahami mengenai status sekolah tersebut.

 Namun untuk kelanjutan pendidikan anak-anak disarankan sebaiknya SD Kelas Jauh itu di bawah naungan UPT Pendidikan Kecamatan Kroya. Bukan di bawah naungan UPT Pendidikan Gabuswetan. “Ini semata-mata untuk mempermudah monitoring dan pelaporannya,” kata Nur Amirin, S.Pd. ( Red )

Lensa Indramayu  - Dalam memeriahkan malam pergantian Tahun, tiap kota di seluruh Indonesia selalu diisi dengan acara semeriah mungkin.
Dua anggota polsek kecamatan sindang sedang mengatur lalu lintas di jembatan alun-alun tepatnya di wilayah Penganjang.

Tak terkecuali Di Indramayu, Ribuan masyarakat yang datang dari berbagai desa memadati tempat-tempat keramaian di Indramayu Kota.

Alun-alun Kota Indramayu adalah pusat kota yang menyediakan tempat khusus bagi para pejalan kaki yang hendak merayakan malam pergantian Tahun yang disebut Car Free Night.

Polres Indramayu bekerjasama dengan seluruh instansi, sengaja dalam mengisi perayaan malam pergantian Tahun diberlakukan system Car Free Night di Alun-alun Indramayu guna mengurangi kemacetan lalu lintas.

Pantauan wartawan Lensa Indramayu di lapangan terlihat banyaknya warga yang datang dari berbagai arah, salah satunya adalah warga yang datang dari Indramayu barat, Sumarno (30) asal Desa Eretan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu. Saat diwawancarai  mengatakan bahwa dia bersama keluarganya lebih memilih merayakan malam pergantian Tahun di Indramayu Kota, "Saya bersama keluarga dan rombongan pengen menikmati moment ini di Indramayu Kota" Kata pria dua anak ini. Minggu 31/12/2017 malam.

Dia menambahkan selain menuruti keinginan anaknya juga sekalian ingin melihat pemandangan kota Indramayu yang sekarang, "Sejak jam 7 kami berangkat dari rumah, sampai sini sekitar jam 8, lalu kami keliling kota Indramayu mulai dari patung pahlawan dekat bundaran mangga, dayung, Gor Singalodra dan Alun-alun." Imbuhnya. Seperti diketahui bahwa jalur dari berbagai arah menuju ke alun-alun di blockade oleh pihak kepolisian, pasalnya tempat tersebut khusus buat pejalan kaki saja. "Kendaraan saya parkir di areal kuliner cimanuk, karena nggak boleh masuk ke alun-alun" Pungkasnya.

Pena  : A71
Editor: Redaktur

Lensa Indramayu  - INDRAMAYU - Atika Permata Sari (12), baru pertama kali mengikuti Ngarot di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu.
Tika bersama teman-temannya siap diarak

Siswi kelas 6 SD Tamansari 1 itu, mengungkapkan perasaannya pasalnya meskipun pertama Kali Ikut Ngarot, Atika Permata Sari merasa bangga bisa melestarikan tradisi leluhur orang tuanya.

"Senang campur deg-degan" kata gadis yang akrab dipanggil tika tersebut, sembari dirias di kediamannya, di Desa lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Selasa (27/12/2017).

Tika mengatakan, bangga bisa berpartisipasi melestarikan tradisi di tanah kelahirannya.
Tika setelah selesai dirias

Saat ditemui ia sedang duduk di sebuah kursi kecil sambil dirias oleh tetangganya.

Tampak wajah gadis yang mengenakan kebaya putih itu telah dipoles makeup.

Kanedah (54), terlihat merangkaikan bunga warna-warni di rambutnya yang disanggul itu.

"Teman-teman sekolah juga banyak yang ikut," kata Tika singkat.

Setiap tahun tema Ngarot selalu berubah, khususnya dalam warna kebaya dan selendang yang dikenakan.
Atika Permata Sari yang dibantu beberapa saudaranya berdandan sebelum mengikuti Ngarot di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Rabu (27/12/2017). 
Kanedah (54) yang biasa merias gadis ngarot mengatakan, tiap tahunnya kebaya berbeda-beda tahun 2017 gadis Ngarot diwajibkan mengenakan kebaya putih, Pada 2016 kebaya yang dikenakan harus berwarna hijau.

Sementara riasan bunga dan lainnya selalu sama setiap tahunnya.

Hal tersebut sesuai keputusan panitia pelaksana Ngarot di Desa Lelea.

"Kalau ikut Ngarot biasanya dikasih uang sama saudara," kata Tika.

Ia mengatakan, uang tersebut dianggap sebagai biaya pengganti untuk mengikuti Ngarot. Pasalnya, untuk berpartisipasi dalam kegiatan itu membutuhkan biaya tidak sedikit.

Dalam Ngarot kali ini, orang tua Tika setidaknya telah mengeluarkan uang 1juta, sebab dari pemkab tidak memberikan dana bantuan untuk acara terbesar di Indramayu tersebut.

"Buat beli kebaya, bunga, sama alat make up. semuanya ditanggung sendiri" ujar orang tua tika.

Tahun ini, adalah tahun pertama bagi tika mengikuti kegiatan ngarot di Desanya.

Ngarot di Desa Lelea Tahun 2017 diikuti kira-kira 100-an muda mudi di desa tersebut.

Mereka sudah bersiap sejak pagi buta. Merias diri agar tampil secantik mungkin.

Perdasarkan pantauan Lensa Indramayu, Gadis Ngarot itu tampak sudah berkumpul di rumah Kepala Desa Lelea kira-kira pukul 09.00 WIB.

Selanjutnya mereka berbaris memanjang dan diarak keliling Desa Lelea.

Mereka berkeliling desa hingga menempuh jarak kira-kira sejauh 2 km sebelum finish di Balai Desa Lelea

Acara tersebut dipadati ribuan warga. Mereka tampak antusias menyaksikan arak-arakan Ngarot. (Red)

Lensa Indramayu  - Pemkab Indramayu melalui Satpol PP Kabupaten Indramayu dan Satpol PP Kecamatan Losarang mengultimatum para pemilik bangunan liar yang dijadikan sebagai warung remang-remang (warem). Mereka mengancam akan membongkar secara paksa jika  pemilik warem tidak membongkar sendiri tempat tersebut.

Warung remang-remang / Ilustrasi
Adapun warem itu tersebar di sepanjang Jalan Pertamina Desa Muntur dan Desa Santing, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu. Satpol PP Kabupaten Indramayu dan Satpol PP Kecamatan Losarang telah melakukan pendataan warem di sepanjang jalan tersebut. Hasilnya, diketahui ada 23 bangunan warem.

Para pemilik warem tersebut sebelumnya telah diberi peringatan hingga tiga kali untuk membongkar tempat mereka. Namun, mereka mengabaikan surat peringatan itu. Satpol PP pun memberikan batas waktu terakhir kepada parapemilik warem untuk segera membongkar sendiri bangunan milik mereka hingga Kamis, 21 Desember 2017.

"Apabila sampai 21 Desember tidak segera dibongkar oleh pemiliknya,maka kami akan membongkar secara paksa," kata Kabid Penegakan Perda Satpol PP Kabupaten Indramayu, Sutrisno, Selasa (19/12).

Puluhan personil Satpol PP dengan pengawalan aparat kepolisian dan TNI pun sudah mendatangi lokalisasi tersebut, Senin (18/12). Mereka menandai satu per satu warem yang akan dibongkar dengan cat semprot.

Lensa Indramayu  - INDRAMAYU - Rasminah merupakan salah satu pemohon uji materi Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Ilustrasi

Dalam permohonannya, Rasminah meminta MK melakukan uji materi Pasal 7 ayat (1) terutama pada frasa "batas minimal usia perkawinan perempuan adalah 16 tahun".

Batas minimal usia yang terlalu rendah dinilai menjadi penyebab perkawinan anak kerap terjadi.

Rasminah dipaksa menikah dengan laki-laki berusia 35 tahun oleh orangtuanya pada usia 13 tahun karena faktor ekonomi.

Setelah setahun, laki-laki berusia 35 tahun yang menikahi Rasminah, pergi meninggalkannya tanpa alasan yang jelas.

"Tadinya mau lanjut sekolah tapi enggak bisa, karena enggak ada biaya, akhirnya dipaksa untuk menikah," ujar Rasminah (32), warga Indramayu, saat mengisahkan sepenggal kisah hidupnya sebagai korban perkawinan anak, Senin (18/12/2017).

Dengan alasan malu, keluarga mendesak Rasminah menikah lagi dengan lelaki berusia 25 tahun.

"Saya dinikahkan tiga kali, saat usia 13, 16, dan 20 tahun, dan terakhir umur 27 tahun dengan orang yang saya cintai"

"Akhirnya saya menikah atas keinginan sendiri dengan suami yang sekarang," kata Rasminah.

Menurut Rasminah, karena alasan himpitan ekonomi banyak keluarga yang memaksa anak perempuannya menikah .

Kemiskinan memaksa anak-anak perempuan dinikahkan dengan laki-laki yang dianggap bisa memberikan nafkah.

Kondisi itu membuat kedudukan perempuan menjadi tidak setara dengan laki-laki.

Akibatnya seringkali seorang suami bertindak sewenang-wenang dan memandang kedudukan istri lebih rendah.

Tidak mengherankan jika sang suami pun meninggalkan Rasminah tanpa alasan yang jelas.

"Banyak yang seperti saya, tapi takut (untuk bicara)"

"Yang nikah muda, kemudian cerai banyak"

"Yang Ditinggal suaminya banyak, tapi mereka takut untuk melapor," kata Rasminah. (Red)

Lensa Indramayu -  Selain di Taman Kota Tjimanoek,Waduk Bojongsari (dayung), serta tempat wisata lainnya yang sudah di sediakan pemerintah Indramayu. Jembatan di desa terusan kecamatan sindang kabupaten indramayu yang baru saja selesai di bangun, menjadi tempat favorit baru buat nongkrong dan selfie anak muda yang datang dari berbagai wilayah.
Jembatan Terusan / foto 504
Jembatan yang lebarnya kurang dari 10 meter ini sering dijadikan tongkrongan rutin yang dihadiri para muda-mudi setiap hari. Padahal banyak pengguna jalan yang merasa khawatir saat melintasi disekitar lokasi tersebut.

Pasalnya pengunjung yang nongkrong di sepanjang jembatan memarkirkan kendaraannya di tepi jalan yang seharusnya di lewati pengguna kendaraan yang melintasi. Sehingga pengguna jalan yang melintasi lokasi tersebut terpaksa mengambil jalur tengah.

Namun meski demikian, Tak sedikit pengguna jalan lain yang kebetulan lewat jembatan tersebut menghentikan kendaraan yang di tumpanginya sekedar ingin selfi saja.

Dari pantauan lensaindramayu.com, Senin 4/12/2017 yang kebetulan melewati lokasi tersebut melihat banyak anak muda nongkrong di jembatan tersebut.

Menurut pengakuan salah satu Warga yang setiap harinya melewati jalan tersebut, yang tidak mau di sebut namanya mengatakan memang banyak anak muda yang nongkrong disepanjang jembatan ini.

"Kadang khawatir juga pak,soalnya saat saya lewat sini jalan yang seharusnya bisa di lewati dengan lancar, ini malah terhalang oleh orang yang nongkrong di situ,sehingga saya harus memperlambat mobil saya" keluhnya sambil menjalankan mobilnya yang sangat pelan.

Di sisi lain dikatakan oleh warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi tersebut, wanto (29, bukan nama sebenarnya) mengatakan kalau malam lebih memilih nongkrong di jembatan tersebut guna menghilangkan kejenuhan.

"Kita kalau malam nongkrong di sini mas, selain dekat rumah ya sambil cuci mata juga mas" ujarnya.

Dirinya berharap agar pihak terkait mau merubah lokasi tersebut sebagai tempat tongkrongan favorit anak muda.

"Kalo bisa sih tempat ini di bagusin lagi mas biar ramainya melebih taman kota cimanuk" pungkasnya.

Penulis : (504)
Editor : Redaktur

Lensa Indramayu - Padi merupakan salah satu jenis tanaman pangan paling penting didunia.  Di Indonesia sendiri padi menempati urutan pertama sebagai bahan makanan pokok sebagian besar masyarakat.
Ibu Wartonah sedang memisahkan bibit padi / foto (A71)
Wartonah 52 tahun Asal desa Lamaran tarung indramayu ini menanam padi dengan caranya sendiri,yakni dengan cara menanam padi di mulai dari nol,Tebaran pari atau bibit padi yang ia kelola sendiri memakan waktu proses kurang lebih 3 hari hingga bibit itu mengalami pertumbuhan.

"3 hari mas" jelasnya dengan polos kepada wartawan lensa indramayu kamis 23/11/2017, ia juga menambahkan setelah bibit padi itu tumbuh maka bibit itu terlebih dahulu di pisahkan dari satu dengan yang lainnya, "Ya musti di pisahkan mas,biar nanti kalo tumbuh tidak saling menempel" imbuhnya.

Ibu yang akrab di panggil bi tonah ini menyebutkan bahwa bibit tersebut di dapat dari pemerintah setempat, bibit yang sudah tumbuh akan di taburkan di sawah selama kurang lebih 20 hari.

"Harga padi 20rb per 5kg yang di beli dari pemerintah mas" pungkasnya (A71)

Lensa Indramayu - Ponorogi,RUMAH SEUKURAN,,,2X4 ITU,,,HANYA TERDAPAT LORONG SEMPIT,,SELEBAR 30 CM..UNTUK SARANA MASUK,,.

Sepertinya terlalu sulit dan dan banyak kalimat untuk bisa menggambarkan kondisi Bu Sri, yang sebenarnya hidup di kawasan tengah kota Ponorogo ini.

Karena untuk sekedar menemukan bahkan bisa masuk kerumahnya saja nyaris tidak bisa.

Jalan menuju rumahnya telah tertutup dari semua sisi.
Hanya tersisa lorong gang kecil selebar 30cm saja, diantara celah bangunan rumah.

Itupun hanya satu jalar saja dan harus melewati dapur_rumah tetangganya.

Rumah yang ia tinggali juga tak kalah sempit.
Hanya berukuran sekitar 2X4 meter saja.

Ruangan sesempit itu sudah merupakan ruang tidur, duduk, masak, dan kamar mandi/wc, yang menjadi satu ruangan.

Tak ada perabot lainnya kecuali amben sebagai tempat tidur dan duduknya.

Bu Sri yang buta dan belum pernah menikah

ini hanya hidup sendirian saja dirumahnya di Jl.Argopuro gg.1 kel.Bangunsari rt 04 rw 01 kec.Ponorogo kab.Ponorogo.

Untuk hidup makan dan minum kesehariannya diberi oleh tetangganya.

Berikut adalah beberapa photo kondisi rumah ibu sri :




Diberdayakan oleh Blogger.